Kapan aku tahu kalau orangtuaku cerai? Waktu aku kelas 1 SD. Kalau pertanyaannya: kapan aku tahu orangtuaku akan cerai? Waktu umurku 5 tahu...

Pertamakali Tahu Orangtua (akan) Cerai

By | Kamis, Juli 13, 2017 Leave a Comment
Kapan aku tahu kalau orangtuaku cerai? Waktu aku kelas 1 SD. Kalau pertanyaannya: kapan aku tahu orangtuaku akan cerai? Waktu umurku 5 tahun kalau nggak ya 6 tahun. Pokoknya waktu aku sudah bisa mikir dan nggak bego-bego amat sebagai anak kecil buat dibohongi (ya walaupun waktu itu masih ada gigi yang gigis, suka ngompol dan masih disuapi kalau makan).

Kok bisa tahu kalau orangtua mau cerai? Sebenarnya aku juga nggak tahu gimana aku bisa tahu hal itu. Sepertinya hal itu adalah kelebihan tersendiri yang Allah berikah ke aku, bisa dibilang aku cukup cerdas karena diusia yang masih 5-6 tahun sudah bisa mengendus bau-bau perceraian orangtua.

FYI, Ummiku terlahir dari keluarga berada. Dia juga anak bontot seperti aku. Bedanya dia terlalu dimanja oleh simbahku. Di sisi lain Abah dari keluarga yang miskin (seriusan, miskin sungguhan). Maka, Ummi merasa nggak betah waktu menikah dengan Abah.

Lho, kok, dulu mau waktu diajak nikah? Iya, soalnya Abah anak Fakultas Kehutanan UGM, sedangkan Ummi anak STIE YKPN. Barangkali Ummi terlalu bangga kalau bisa nikah dengan anak UGM. Makanya mau-mau saja waktu diajak nikah sama Abah. Sayangnya, beliau nggak benar-benar mau diajak berjuang dari nol bareng Abah.

Karena Abah itu kere, maka Ummi nggak betah dan merasa tidak dinafkahi. Lalu aku sering lihat mereka bertengkar. Pertengkaran yang selalu Abah lalui dengan diam dan diakhiri dengan pergi ke suatu tempat. Kadang Abah ngajak aku dan Mbakku jalan-jalan keluar buat cari angin segar. Balik ke rumah 2-5 jam kemudian, ya sekiranya kalau Ummiku udah nggak marah-marah lagi.

Sejak kapan mereka bertengkar? Ah, aku nggak ingat sejak kapan mereka suka bertengkar. Tapi seingatku setelah aku masuk TK mereka sering bertengkar karena barangkali di rumah cuma ada beras, nggak ada lauk. Ya kalau ada lauk paling cuma pakai tempe. Atau waktu PLN tiba-tiba matiin listrik di rumah karena nunggak bayar (zaman aku kecil belum ada meteran pulsa prabayar, adanya meteran manual/pasca bayar)

Sejak mereka bertengkar. Pakdhe-Budhe dan Simbahku sering datang ke rumah. Berkumpul, ngomongin sesuatu. Aku nggak tahu apa saja yang mereka omongkan. Karena pasti kalau mereka datang ke rumah, mereka ngobrol di suatu ruangan yang agak jauh dari kamar tidurku dan mbakku.

Sengitnya aku dengan kedatangan mereka adalah, mereka hampir selalu datang waktu aku, mbakku dan Abahku sedang belajar, guyon (bercanda), cerita atau waktu aku dan mbakku sedang disuapi Abah. Mereka datang. Lalu aku dan mbakku ditidurkan di kamar tidur supaya nggak dengar pembicaraan mereka.

Waktu itu aku belum lancar bahasa Jawa. Jadi sebenarnya, sekalipun aku dengar apa yang mereka bahas, aku nggak akan tahu artinya. Tapi mau mereka pakai bahasa Jawa atau Indonesia. Mau aku paham terjemahannya atau nggak, aku tahu tujuan kedatangan mereka: menengahi pertengkaran Abah dan Ummi, dan cara menengahi pertengkaran mereka dengan memberikan satu solusi: cerai.


Setelah tahu kalau orangtuaku akan cerai, aku sering bertanya dalam hati: besok aku pilih ikut Abah atau Ummi, ya? Kalau mereka jadi cerai rasanya kayak gimana, ya? Mereka seriusan nih mau cerai?

Takut? Iyalah! Taik, nggak usah ditanya! Bayangkan saja, belum genap 7 tahun dan dibayang-bayangin orangtua bakal cerai. Sedih? Aku nggak tahu sedih atau nggak, karena aku nggak pernah nangis ketika tahu mereka akan cerai. Bahkan setelah mereka cerai pun aku nggak nangis. Mungkin cuma takut dan kecewa.

Tahu mereka akan cerai di usia yang masih dini tanpa mereka beritahu, buatku adalah anugerah dari Allah. Karena bagiku itu merupakan suatu kecerdasan tersendiri.

Tapi tahu mereka akan cerai di usiaku yang masih dini juga menjadi sebuah kebodohan buatku. Kenapa? Iya, karena aku tahu mereka bakal cerai tapi aku sama sekali nggak berani melarang mereka buat bercerai. Aku nggak berani bilang bahwa aku nggak ingin mereka cerai. GOBLOK BANGET SUMPAH, GOBLOK se-GOBLOK GOBLOKNYA GOBLOK.


Jadi kadang aku kagum dengan kercerdasanku yang satu itu, tapi kadang juga meratapi ketidakberanianku buat melarang mereka bercerai padahal aku tahu banget kalau aku nggak pingin orangtuaku cerai.

Lalu, kapan aku tahu kalau mereka cerai? Waktu tiba-tiba Abah dapat kerja di luar kota. Di Banjarnegara, Jawa Tengah. Awalnya aku mikir bahwa Abah diusir dari rumah, nggak tahu sungguhan kerja di Banjarnegara atau nggak. Lalu saat aku dan kakakku lebaran di rumah Simbahku yang dari Abah yang ada di Ngawi, Jawa Timur.

Waktu itu Abah ngobrol dengan Pakdhe-Budhe; Paklik-Bulik dan simbah puteriku (simbah kakungku yang dari Abah sudah meninggal jauh sebelum aku dibikin :p) Aku nggak tahu mereka ngomongin apa, tapi aku dengar ada kata-kata PISAH dan CERAI. Abahku ngobrok campuran bahasa Jawa Timuran dan bahasa Indonesia. Waktu itu sih aku nggak ikut nimbrung, cuma karena Abah orang Jawa Timur jadi kalau ngomong agak keras, jadilah aku dengar obrolan mereka.

Begitu dengar kata-kata PISAH dan CERAI aku berusaha nguping dan berusaha memahami bahasa Jawatimuran Abah dan saudara-saudaranya,

Sepulangnya ke Jogja, ke rumah Ummi. Aku tanya ke Ummi: apa Abah dan Ummi udah cerai? Ummi jawab: nggak. Beliau jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu. Aku tanya lagi, dia balas tanya: kamu kata siapa? aku jawab: bukan kata siapa-siapa (lha wong memang aku nggak dikasih tahu siapa-siapa, tapi nguping :p) Kutanya lagi, dia diam. Ya kalau begitu tanggapan dia, kusimpulkan kalau orangtuaku betulan cerai.


Oke, jadi seperti itulah awal mula aku tahu kalau orangtuaku akan cerai. Perasaanku. Kaget, kecewa tapi nggak nangis.

Lalu apakah aku jadi anak nakal? Apakah aku jadi mabuk-mabukan, ngrokok , narkoba, seks bebas sebagai bentuk melampiaskan kekecewaanku akan perceraian mereka?

YA NGGAK LAH! Lha wong mereka cerai waktu aku masih SD kelas 1. Nggak sampai ke situlah pikiranku. Tapi aku jadi malas sekolah. Bahkan aku pindah SD sampai 10 kali. Mulai dari sekolah Islam Terpadu (IT), Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Sekolah Muhammadiyah, Pondok Pesantren NU, Pondok Pesantren salafi pernah kumasukkin semua saking malas dan nggak betahnya aku sekolah. Selain itu aku jadi suka misuh (mengumpat) pisuhan andalanku kala itu adalah ASU dan Tit*t, nggak pernah sholat, ngeyelan (bandel, susah dinasihatin). Tapi ajaibnya, waktu aku malas sekolah, aku rajin baca buku yang menurutku bagus. Aku juga rajin nggambar walau gambarku jelek.


BTW< sebenarnya sejak mereka belum cerai aku sudah malas sekolah. Setelah mereka bercerai, tambah malas lah aku. Jadi aku rasa kemalasanku selain karena aku memang nggak cocok sekolah di sekolah formal, juga sebagai pelampiasanku karena kesal mereka cerai: batinku saat itu: biar mereka tahu rasa, emang enak punya anak malas sekolah. Ngapain aku kudu nurutin keinginan mereka supaya aku sekolah. Lha wong mereka saja nggak paham kalau aku nggak ingin mereka cerai. Cih, sudi amat nurutin kemauan mereka, mereka saja nggak nurutin kemauanku.




Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: