Jika di artikel sebelumnya aku sudah membahas bagaimana aku bisa tahu bahwa orangtuaku bercerai.  Kali ini aku akan membahas mengena...

Dampak Perceraian (Apa yang Terjadi Setelah Orangtuaku Cerai).

By | Jumat, Juli 21, 2017 Leave a Comment

Jika di artikel sebelumnya aku sudah membahas bagaimana aku bisa tahu bahwa orangtuaku bercerai. 

Kali ini aku akan membahas mengenai dampak dari perceraian kedua orangtuaku.
Sebelumnya sebagai informasi, setelah orangtuaku sah bercerai hak asuh anak jadi milik ummiku (aku dan kakakku terima jadi, nggak ditanya mau ikut abah atau ummi, nggak diberi kesempatan buat memulih) aku nggak tahu bagaimana caranya hakim memutuskan bahwa hak asuh berada di tangan ummiku, mungkin ummiku lebih mampu secara materi (sebenarnya yang mampu secara materi adalah simbahku dari ummi) sedangkan abahku kala itu masih kere (tapi setelah aku besar, ummiku bilang bahwa di mana-mana, jika anak masih di bawah umur maka hak asuh bakal jadi milik ibu, nggak tahu benar atau salah).

Apa yang terjadi setelah orangtuaku cerai? 

Aku nggak sedih, nggak nangis, aku sendiri juga bingung apa yang aku rasakan saat itu, mungkin sebenarnya aku kecewa.

Aku jadi nakal nggak?

Iya aku jadi nakal. Tapi nggak yang gimana-gimana, nggak ngerokok, nggak narkoba, nggak seks bebas soalnya aku masih kelas dua SD waktu itu. Kenakalanku lebih ke aku malas sholat, malas sekolah, suka ngomong kasar dan kotor, susah dibilangin/dinasihati.

Tapi sebenarnya sejak sebelum mereka bercerai aku sudah malas sekolah duluan ding. Kenapa? Karena aku nggak bisa mendapatkan teman yang cocok sama aku, itu waktu TK. Waktu SD lebih karena aku nggak suka dengan rutinitas sekolah yang membosankan: harus bangun pagi, harus pakai seragam, harus belajar sesuai jadwal dari jam segini sampai jam segini, harus belajar sesuai materi yang sudah dikasih.

Namun setelah orangtuaku bercerai ada satu dampak positif yang aku dapatkan: jadi berani berinteraksi dengan orang lain, jadi punya teman. Mungkin karena aku nggak tahu lagi harus mengungkapkan kemarahanku kepada siapa, makanya aku jadi berani ngomong dengan orang lain dan cerita ke semua temanku kalau orangtuaku sudah cerai. (Tapi, walaupun jadi berani ngomong dengan orang lain dan punya teman, aku nggak merasa dekat dengan mereka, nggak merasa bahwa mereka sahabatku sekadar teman buat ngobrol saja).

Pernah nggak aku minta mereka buat balikan?

Aku pernah bilang ke ummi supaya balikan sama abah, tapi nggak berani bilang ke abah (karena waktu itu ikut ummi jadi merasa lebih dekat ke ummi, nggak berani bilang ke abah).

Apa tanggapan ummi? 

Aku lupa waktu aku minta supaya mereka balikan dia ngomong gimana. Tapi aku ingat pernah suatu malam waktu abah nengok aku, ummi bicara sesuatu yang intinya minta rujuk karena barangkali ummi sudah nggak sanggup membujuk aku agar mau sekolah. Mungkin ummi berpikir jika balikan sama abah maka aku bakal rajin sekolah.

Apa respon abah? 

Beliau nggak mau balikan. Mungkin karena sudah terlanjur sakit hati karena diceraikan dan barangkali dia trauma, udah nggak percaya sama ummi, takut kalau nanti balikan ujung-ujungnya cerai lagi. Abah maunya dari awal nggak cerai, tapi ummi minta cerai. Giliran udah  cerai ummi minta balikan, maka abah pun nggak mau balikan.

Akhirnya, sampai detik ini mereka nggak pernah balikan sama sekali.

Terus nasibku gimana setelah itu?

Ya aku hampir dua tahun malas sekolah. Pindah sekolah melulu karena bosan sama satu sekolah. Alhasil selama aku di Jogja (selama ikut ummi) aku pindah SD sebanyak 9 (sembilan) kali.
Hobiku pindah sekolah berhenti waktu ikut abah ke Wonosobo (waktu itu abah kerja di wonosobo, di koperasi swasta punya sahabatnya)

Terus, gimana ceritanya aku bisa berhenti pindah-pindah sekolah?

 Di artikelku yang selanjutnya bakal aku ceritakan gimana ceritanya kok aku yang malas banget sekolah dan hobi pindah-pindah sekolah bisa-bisanya jadi rajin sekolah.


Posting Lama Beranda

0 komentar: