Catatan : Ini adalah cerpen terpanjang yang pernah aku buat, maaf kalau feel nya kurang greget. Aku persembahkan untuk kalian yang de...

Tentang Cinta (About Love)

By | Rabu, April 09, 2014 Leave a Comment

Catatan : Ini adalah cerpen terpanjang yang pernah aku buat, maaf kalau feelnya kurang greget. Aku persembahkan untuk kalian yang dengan setia sering atau bahkan selalu membaca tiap cerpenku 

Kenapa tiba-tiba laki-laki itu datang kembali ke kehidupannya? Sejak kapan ia kembali dari Sydney ? Mengapa laki-laki itu tak mengabarinya terlebih dahulu? Mengapa laki-laki itu menjadi guru di sekolahnya? Apa maksud laki-laki itu? Mau apa dia? Punya rencana apa dia? 


Delapan bulan  berlalu, sejak laki-laki itu menjadi guru musik di sekolahnya, tetapi berjuta tanya itu masih memenuhi otaknya, dan sore tadi, sepulang sekolah, semua tanda tanya itu terjawab sudah. Laki-laki itu ingin kembali padanya, ingin menebus kesalahan yang pernah diperbuat terhadapnya, dan mengulang semuanya dari awal.

“Dulu kakak pernah bilang sama kamu, bahwa kakak nggak pernah tertarik jadi guru sedikitpun. Mungkin, selama ini kamu bertanya kenapa tiba-tiba aku jadi guru di sini. Cuma ada satu alasan kenapa Kakak kembali ke Jakarta dan menjadi guru di sekolah ini. Alasan kakak adalah kamu. Kakak tahu kamu sekolah di sini, maka kakak ngelamar jadi guru di sini. “ Ucap Laki-laki itu setelah kata maaf diberikan untuk dirinya.


“Sama kaya yang aku bilang barusan ke kakak. Jauh sebelum kakak minta maaf ke aku, aku udah maafin kakak. Dan…., jauh sebelum kakak datang lagi ke kehidupanku, aku anggap semuanya udah berakhir.” Ucapnya ragu pada laki-laki itu, ia berusaha untuk memasang wajah serius.




“Kalau kamu anggap semuanya udah berakhir, kita bisa mulai dari awal lagi kan? Kalau kamu anggap semuanya berakhir, maka sekarang saatnya buat memulainya kembali.” Laki-laki itu menggenggam jemari-jemari lentik miliknya, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari yang jauh lebih besar dari miliknya. Menatap dirinya dengan tatapan lembut dan penuh harap. 


Oh, laki-laki itu sama sekali tak berubah. Cara laki-laki itu menatapnya, cara laki-laki itu menggenggam tangannya, cara laki-laki itu memohon dan meminta kepada dirinya. Semuanya masih sama, masih sama seperti saat laki-laki itu belum meninggalkannya ke Sydney tanpa berpamitan dan tak memberi kabar apapun selama tiga tahun.

“Buat aku…” Ia menggantung kata-katanya. Di dalam otaknya sudah tersusun kata-kata yang rapi, di dalam hati ia ingin mengucapkan kata-kata yang tersusun rapi itu, namun bibirnya seolah sulit digerakkan.

“Buat aku, hubungan kita saat ini sebatas murid dan guru, dan selamanya akan hubungan murid dan guru itu nggak akan pernah berubah.” Ucapnya tanpa berani menatap kedua bola mata laki-laki berwajah campuran antara eropa dengan oriental itu. 

Mimik wajah laki-laki itu yang tadinya menggambarkan harapan yang besar berubah seketika, mimic itu menggambarkan kesedihan dan kekecawaan. Sekilas ketika ia pandang kedua bola mata laki-laki itu, ia melihat keraguan di mata laki-laki itu. 

“Kenapa?” 

“Ya, karena selama ini emang nggak ada kejelasan dari Kakak. Dan kalau tadi kakak bilang bahwa kakak menganggap kita masih pacaran, maka aku perjelas lagi bahwa aku udah nggak nganggap kalau kita masih pacaran.”

“Apa cuma gara-gara selama ini nggak ada kejelasan yang pasti dari aku?” tatapan laki-laki itu semakin lekat.

Ia lepas genggaman laki-laki itu dengan lembut. “Ya.., karena…” ia hentikan ucapannya, ia telan ludahnya, ia gigit bibir bawahnya, berusaha mencari alasan. “karena aku udah nggak suka sama Kakak. Rasa sayang aku ke kakak udah hilang. Udah nggak ada rasa apa-apa lagi di hatiku buat Kakak.”

Laki-laki itu menatap pergelangan tangan kirinya, lalu menggenggam pergelangan tangan itu. “Kalau kamu udah nggak suka sama kakak, kenapa kamu masih pakai gelang ini?” 

Pertanyaan laki-laki itu membuatnya tercengang. Bodoh! Seketika ia mengutuki dirinya sendiri. Benar apa yang ditanyakan oleh laki-laki itu, mengapa ia masih memakai gelang dari laki-laki berwajah eropa-oriental itu apabila ia sudah tidak mencintai laki-laki itu?

“Kalau aku suka sama gelangnya, apa aku nggak boleh pakai gelang ini?”

“Ini gelang murahan Sa, kakak masih ingat itu. Waktu itu aku asal aja beli gelang ini buat kado ulangtahun kamu karena aku bingung mau kasih kado kamu apa. Kalau kamu suka gelang ini, kalau kamu anggap gelang ini bagus dan kalau kamu udah nggak suka sama aku, seharusnya kamu buang jauh-jauh gelang ini dan kamu bisa beli gelang yang sejenis kaya ini di toko aksesoris.”

“ Ya udah..” Ia berusaha melepas gelang berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Kalau Kakak nganggap dengan memakai gelang ini berarti aku masih ada rasa sama Kakak..” Ia berusaha melepas gelang itu “Aku kembaliin gelang ini. Makasih sebelumnya.” Ucapnya lirih sambil menyerahkan gelang tadi kepada laki-laki itu. 

Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia segera berlalu meninggalkan laki-laki itu begitu saja. Meninggalkan laki-laki itu dengan perasaan tak menentu.

                                                            ***

Luka yang ditorehkan oleh guru seni musik itu sudah lama mengering. Namun ketika guru itu tiba-tiba menjadi seorang guru musik di sekolahnya, luka itu kembali basah dan terasa perih.
Guru itu mengatakan bahwa ingin dan akan menyembuhkan luka yang tertoreh di hatinya. Namun kedatangannya justru membuat luka yang sudah tertutup kembali terbuka.

Ketika pertama kali melihat wajah guru musik itu di sekolah, otaknya langsung teringat pada memori lama. Memori saat masih ada cinta diantaranya dan guru musik itu, hingga memori tentang apa yang telah guru musik itu lakukan padanya. Seketika hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak, ketika semua memori mengenai guru itu kembali hadir di otaknya.

Hal itu memang sudah berlalu hampir empat tahun yang lalu, namun rasa sakit dan kecewa itu tak bisa ia lupakan karena hal itu terjadi selama tiga tahun. Selama hampir tiga tahun ia memberikan cintanya kepada orang yang tak jelas apakah masih mencintainya atau tidak. Memberikan cintanya pada orang yang tak pernah memberinya kabar sekalipun selama tiga tahun.

Ia berusaha memaafkannya, dan itu berhasil ketika memasuki tahun ketiga laki-laki itu berada di Sydney. Tetapi, ketika guru itu datang kembali ke kehidupannya, ia tahu bahwa ia belum benar-benar sanggup memaafkan guru itu, karena nyatanya ia masih merasa sakit. Tetapi ia berusaha untuk tetap bersikap ramah dan seolah tak tersakiti di hadapan guru itu.

Ia tak mau guru itu kembali menyakitinya. Ia tak mau memberikan cintanya lagi untuk guru itu. Meskipun sepertinya guru itu benar-benar menyesali perbuatannya dan benar-benar ingin memberi sebuah cinta yang tulus kepadanya, ia tetap tak bisa menerima kembali guru itu. 

Hatinya masih sakit, sangat sakit. Dadanya masih sesak, sangat sesak. Mengatakan bahwa ia sudah tidak mencintai guru itu lagi, sepertinya adalah hal terbaik, karena dengan begitu, guru itu akan menjauh darinya dan berhenti mencintainya.

                                                            ***

Empat bulan berlalu,

Hampir seantero sekolah dihebohkan oleh apa yang terjadi tadi siang. Arnold, guru muda itu, guru seni musik yang menurut sebagian anak-anak perempuan di sekolahnya adalah guru paling cakep satu sekolah pulang bersama seorang perempuan.

“Mungkin itu pacarnya.” Ucap Zahra, teman sekelasnya.

“Cantik banget ya ceweknya. Mereka cocok deh.” Komentar Angel—Si Ketua Kelas.

 Perempuan yang pulang bersama guru itu memang cantik, sangat cantik bahkan. Seperti artis korea. Namun, siapa perempuan itu? Benarkah perempuan itu pacarnya? Beberapa pertanyaan yang menghantui teman-temannya tiba-tiba ikut menghantuinya.

Mengapa tiba-tiba ia menjadi penasaran? Bukankah tadi saat di sekolah ia tak peduli dengan guru itu dan perempuan yang bersamanya? Mengapa kini ia menjadi penasaran seperti teman-temannya? Kalau benar perempuan itu adalah pacarnya, lalu apa urusannya? Mau apa dirinya setelah ia tahu bahwa perempuan itu adalah pacar guru musik itu?

                                                                        ***

Sore  ini birunya langit tak terlihat, matahari tersenyum malu-malu di balik gumpalan awan berwarna kelabu. Semilir angin bertiup berkali-kali, menerbangkan benda-benda bermassa ringat seolah tanpa henti. Kilatan cahaya sesekali nampak di angkasa.

Arnold berjalan sendirian meniti koridor sekolah menuju ruang musik. Langkahnya lebih panjang dan lebih cepat dari biasanya. Ia lirik jam berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jam menunjukkan pukul 15:15. Ia sudah terlambat lima belas menit. Janji untuk bertemu dengan gadis itu adalah pukul 15:00. Arnold mempercepat langkahnya.

Arnold menghentikan langkahnya, kini ia berdiri di depan pintu ruang musik. Ia atur napasnya yang terengah-engah dan dengan degub jantung yang terasa  lebih cepat dari biasanya, ia raih gagang pintu itu dan membukanya secara perlahan.

Pintu terbuka. Seketika, suara dentingan piano masuk ke telinganya. Ia dapati seorang gadis tengah duduk di depan sebuah grand piano dengan memunggunginya. Ia dekati gadis itu.

“Maaf, Kakak terlambat.” Ucap Arnold penuh penyesalan. Gadis itu hanya diam, jemari-jemari lentik gadis it uterus menari di atas tuts-tuts piano.

Arnold mendekati gadis itu, duduk di sebelah kanannya, gadis itu menggeser duduknya ke kiri beberapa jengkal.

“Pasti udah nunggu lama. Maaf banget ya Sa.” 

Jemari-jemari gadis itu berhenti menari. Ia alihkan pandangannya dari tuts-tuts piano itu, ia pandang wajah Arnold, ia pandang dahinya, bukan matanya.

“Nggak papa kok, Cuma terlambat lima belas menit.” Suara gadis itu terdengar lirih.

“Eee..” Arnold berusaha untuk berbicara.  “Sa, Kakak langsung aja ya, nggak usah basa-basi.” Ia pandang gadis  yang duduk di kirinya itu dengan lekat, gadis itu menatap dirinya dengan sayu.

“Kakak cuma mau ngasih ini.” Ucap Arnold sambil menyerahkan sebuah kertas tebal, sebuah undangan.

“Ini apa?” Tanya gadis itu bingung. Dipandangnya kertas itu dengan lekat, kemudian ia pandang laki-laki berwajah eropa-oriental itu.

“Sama yang kemarin?” Tanya gadis itu penuh selidik.

“Kemarin? Kamu lihat aku jalan bareng dia?”

“Satu sekolah udah dibuat heboh Kak. Habis, pacarnya kakak cantik sih. Kaya artis Korea.” Gadis itu tersenyum manis.

“Anak-anak yang lain juga kakak kasih undangan?” 

“Ee, nggak.” Arnold diam sejenak, perasaannya tak karuan. “Cuma kamu yang aku kasih.”

Gadis itu mengernyitkan dahinya “Kenapa?” 

“Nggak tahu. Aku..Aku juga nggak tahu kenapa. Ya, mungkin, karena kita udah saling kenal sejak kamu kelas tujuh SMP, dan ya…mungkin karena aku merasa kalau kita itu deket banget..”

 Laki-laki itu menggantung ucapannya “Deket kaya adik sama kakak dan akhirnya kita jadi murid dan guru, ya makanya aku kasih kamu undangan itu.”


“Oh gitu.” Gadis itu nampak berpikir. “Aku pasti dateng. Pasti.” Untuk yang kedua kalinya gadis itu tersenyum manis.

“Kalau gitu….Aku pulang dulu. Aku cuma mau kasih itu ke kamu.”  Arnold segera beranjak dari duduknya, berjalan meninggalkan gadis itu.

                                                                        ****

Ia masih berada di ruang musik. Masih duduk di depan grand piano tadi. Ia masih memandangi undangan yang beberapa menit yang lalu diberikan oleh laki-laki itu.

Secepat itukah laki-laki itu mendapatkan penggantinya? Tiba-tiba sebuah pertanyaan yang tak ia kehendaki datang ke dalam pikirannya.

Tunggu! Mengapa tiba-tiba ia bertanya seperti itu? Buat apa dia bertanya seperti itu? Bukankah merupakan berita gembira jika laki-laki itu akan segera menikah?

Tiba-tiba kelopak matanya terasa berat, matanya terasa hangat. Sesuatu yang sejak tadi ia tahan akhirnya memenuhi kelopak matanya, lalu jatuh, mengalir membentuk sebuah sungai kecil di pipinya. Sungai itu semakin lama semakin banyak jumlahnya. Pipinya kini seperti bumi yang penuh dengan ribuan kelokan sungai.


Sakit! Perih! Sesak!

Kenapa tiba-tiba lukanya yang sudah beberapa bulan ini cukup terobati kembali sakit lagi? Lalu, mengapa ia harus menangis? Apa yang membuatnya merasa sakit dan membuatnya menangis?

Undangan yang saat ini berada di tangannya…Apakah undangan ini yang membuatnya merasa sakit? Yang membuatnya menangis? Tapi kenapa? Kenapa ia harus merasa sakit? Kenapa ia harus menangis karena undangan ini?

Aliran sungai-sungai yang berada di pipinya semakin deras. Airnya meluap, hingga membasahi rok selutut berwarna biru muda yang ia kenakan.
                                                                        ***
“Kenapa kamu nangis?” Seseorang bertanya padanya.
 Suara itu! Suara itu tak asing baginya. Suara lembut beraksen bule itu…Tapi tak mungkin! Tak mungkin laki-laki itu kembali lagi ke sini.

Dua tangan kekar mengusap lembut kedua pipinya, menghapus aliran sungai yang membasahi pipinya.

Ya! Orang yang saat ini tengah mengusap pipinya pasti laki-laki itu. Ia tak ingin melihat wajah laki-laki itu. Ia tak mau laki-laki itu melihat wajah sedihnya. Ia tundukan wajahnya, ia buang pandangannya dari laki-laki itu.

“Ada yang nyakitin perasan kamu? Buat apa kamu buang-buang air mata?” Tanya orang yang mengusap pipinya itu dengan hati-hati.

“Sa, bisa lihat kakak?” Orang itu menggenggam jemari tangan kanannya. Tangan kiri orang itu mengangkat dagu panjangnya.

“Hei..” Orang itu mengarahkan wajahnya agar berhadapan dengan wajah orang itu.

Oh! Benar saja, orang yang saat ini berada di hadapannya adalah laki-laki itu. Mengapa laki-laki itu kembali ke sini dan mengusap air matanya?

“Kenapa sih harus bohong sama diri kamu sendiri? Kenapa kamu harus bersandiwara dengan perasaan kamu?” Laki-laki itu memandang dirinya dengan tatapan lembut dan penuh perhatian.

Ia hanya diam. Ia buang pandangannya dari laki-laki itu, ia tatap kosong lantai ruang musik yang terbuat dari marmer.

Laki-laki itu memandangnya yang hanya diam membisu dengan iba, memandangnya dengan diam tanpa suara. 

Seketika, laki-laki itu mendekapnya. Mengelus kepalanya dan punggungnya dengan lembut. Membiarkan dirinya menangis dan membasahi kemeja yang dikenakan oleh laki-laki itu.
“Masih mau ngebohongi perasaan kamu lagi?” 

Ia hanya diam, tetap diam. Ia pejamkan matanya kuat-kuat, ia keluarkan semua persediaan air mata yang dimilikinya.

“Jangan bohong lagi. Jangan bohong lagi ke Kakak, dan jangan pernah ngebohongin perasaan kamu sendiri.”

Dengan terbata-bata dan selingan isak tangis, tanpa dikehendaki bibirnya bergerak, mengatakan sesuatu  “A…aku..sayang sama Kakak.” 

“Aku juga sayang kamu, kakak sayang sama kamu Sa.”

Air matanya terus menetes, disusul oleh tetesan air yang turun dari langit berwajah pucat sore ini.
                       
                                                            The End
Short Story By: ImaRosyi
X TKJ 2 SMKN 2 Yogyakarta








Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: