S ejak beberapa jam yang lalu moodku benar-benar down. Saat mengikuti pelajaran,rasa semangat sama sekali tak hadir pada diriku.Saat ...

Rasa Ini

By | Sabtu, Oktober 13, 2012 Leave a Comment
    Sejak beberapa jam yang lalu moodku benar-benar down. Saat mengikuti pelajaran,rasa semangat sama sekali tak hadir pada diriku.Saat guru menerangkan pelajaran,yang ku lakukan adalah mencora-coret lembar terakhir pada buku tulisku,penjelasan dari guru hanya menjadi angin lalu saja,hanya sesaat pelajaran yang ia jelaskan masuk ke dalam otakku,selesai pelajaran,apa yang dijelaskan oleh guru itu sedikit demi sedikit menghilang dari otakku.

            Ngantuk dan kecewa,itu yang aku rasakan.Entah kenapa,beberapa hari ini aku selalu diserang insomnia sehingga aku sering tidur diatas jam dua belas malam.Tidur diatas jam dua belas malam bangun pukul setengah lima pagi,alhasil,rasa kantuk masih menempel pada diriku dan terbawa hingga di sekolahan.
            Tadi pagi ada ulangan harian agama,Beberapa hari sebelum ulangan agama aku sudah belajar ,lalu,tadi malam aku juga belajar dengan seirus.Belajar serius yang ku dapatkan hanya nilai delapan puluh,rasanya kecewa sekali,padahal aku berharap bisa mendapatkan nilai Sembilan puluh.Mungkin,karena rasa kantukku ini yang membuat pikiranku ngebleng sehingga aku tak mampu memaksimalkan kerja otakku dalam mengerjakan soal-soal ulangan.


            Sejak satu jam yang lalu guru PKN itu berada di dalam kelasku,menerangkan materi pelajaran yang ada pada LKS.Aku melihat kea rah jam dinding yang menempel pada dinding kelas sebelah utara.Jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit siang hari.Aku sudah tak sabar menunggu bel istirahat kedua berbunyi.Rasanya aku sudah tak betah berada di dalam kelas,ingin buru-buru keluar kelas,melepaskan kegalauan hatiku.
            Lima belas menit lagi bel istirahat kedua baru akan berbunyi.Menunggu lima belas menit terasa lebih lama dari pada menunggu satu hari.Ku mohon,bel istriahat kedua segera berbunyi!perasaanku makin tak karuan,rasanya aku ingin menangis,kalau bel istirahat kedua tidak segera berbunyi,bisa-bisa aku menangis di kelas!!

                                                                        ***

            Aku berdiri di ambang pintu koperasi sekolah.Menunggu Jihan,Gita dan Lina keluar dari kelas mereka.
            Koperasi sekolah berhadapan langsung dengan kelas 9B,kelas Gita dan Lina.Ku lihat Lina dan Gita tengah berdiri di depan pintu kelas mereka.Mereka berdua tengah ngobrol dengan seorang cowok,seorang cowok yang taka sing lagi bagiku.Gita melihat kearahku,ia melambaikan tangannya,menyuruhku untuk bergabung dengannya dan Lina.Aku hanya tersenyum dan menggeleng,tak menuruti ajakan Gita.
            Gita dan Lina masih asyik ngobrol dengan cowok itu,sedangkan aku masih berdiri sendiri di ambang pintu koperasi.Ku tengokkan kepalaku ke kanan dank e kiri,mencari seseorang yang sejak tadi belum tercium baunya olehku—Jihan.Sejak tadi,hanya Jihan yang belum ku lihat.
            Ku lihat Lina mendekatiku,sedangkan Gita masih ngobrol dengan cowok tadi.Lina berdiri di depanku.
            “Da,dia mau nembak adek kelas.” Ucap Lina padaku.Aku hanya memandang Lina sekilas,lalu tesenyum simpul.
            Berharap waktu istirahat kedua segera tiba karena aku ingin menangisi kekecewaanku terhadap nilai ulanganku.Tetapi,kenapa rasanya aku sulit untuk menangis.Sekarang,bukannya aku menangis,malah perasaanku semakin tak karuan.Sulit bagiku untuk menceritakan perasaanku dengan kata-kata.Rasanya..Ah!Pokoknya rasanya tak karuan,kecewa,ingin menangis,ingin menceritakan kekecewaanku pada Jihan dan Gita,tapi aku ingin memendamnya saja.Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
            Gita mendekatiku,ia mengajakku masuk ke dalam koperasi.Dengan langkah limbung aku mengikuti Gita masuk ke dalam koperasi.Aku bingung harus bicara apa dengan Gita tentang perasaanku ini.
            “Aku pengin nangis.” Ucapku pada Gita.
            “emang kenapa?” Tanyanya
            “Nggak tahu,pengin aja.”
            “Ya nangis aja.” Ucap Gita.Aku segera memeluk Gita.Ku coba menenangkan perasaanku.Ku coba untuk mengeluarkan air mataku,tapi tak bisa,yang ada malah rasa kantukku semakin kuat.
Beberapa menit memeluk Gita, ku rasa sia-sia,tetap tak membuat perasaanku tenang.Segera ku lepaskan pelukanku.Ku pandang sekitarku,koperasi sudah mulai penuh oleh murid-murid yang ingin membeli sesuatu.Ku rasa,bukan saat yang tepat untuk mencurahkan perasaan di koperasi.Dari pada aku ingin menangis namun tak bisa,lebih baik aku segera mengambil air wudhu,barangkali saja setelah wudhu perasaanku menjadi lebih tenang.
           
                                                                        ****

            Aku,Jihan,Gita dan Lina berjalan menuju ruang ketrampilan yang setiap harinya menjadi tempat sholat untuk jamaah putri.Aku segera melemparkan rukuhku ke atas lantai.Lalu duduk dengan perasaan tak karuan yang masih bersemayam di dalam benakku.
           
            “Aku pengin nangis.” Ucapku pada Jihan.
            “Emang kenapa?” Tanya Jihan.
            “Nggak tahu,pengin aja nangis.” Ucapku sambil menyenderkan kepalaku pada bahu kiri Jihan.
            “Rasanya tu…Pengin nangis aja..” Ucapku lirih sambil mrangkul Jihan dengan kedua tanganku.Ku rasakan mataku mulai terasa basah.Air mataku keluar dengan deras,membasahi pipiku.Aku mulai terisak
            “Kamu kenapa sih?” Tanya Jihan yang sepertinya menyadari keadaanku.Aku hanya diam.Diam sejuta bahasa.Aku tak tahu harus menjawab pertanyaan Jihan dengan jawaban apa,karena aku tak mampu menceritakan apa yang ku rasakan saat ini.
            Jihan mengusap punggungku.Ku rasakan ada tangan sepasang tangan lain yang ikut mengusap punggungku.
            “Kamu kenapa sih?” Tanya seseorang yang ku tahu itu Gita,aku hapal betul dengan suaranya.
            “Jambul mungkin.” Kali ini ku dengar suara cempreng seorang cewek.
            “Emang kenapa sih?” Tanya Jihan sambil terus mengusap punggungku.
            “Diakan mau nembak adek kelas.” Ucap Gita sambil mengusap pundakku.
            “Sudahlah Da,kamu nggak usah nangis Cuma gara-gara hal itu.Kamu tu kuat Da,seorang Ida nggak mungkin nangis Cuma gara-gara hal itu.Udahlah Da,kamu bukan Ida kalau kamu nangisin hal itu.” Ucap Jihan mencoba menenangkanku.Aku tak menghiraukan ucapan Jihan,aku terus saja menangis,mencoba menenangkan perasaanku.
            Beberapa menit menangis,ku coba untuk berhenti menangis.Ku lepaskan rangkulanku.Ku usap air mataku dengan jilbab putih yang ku gunakan.AKu mencoba menarik napas panjang.Berhenti menangis bukan karena aku meresapi ucapan Jihan.Aku berhenti menangis karena aku merasa ruang ketrampilan ini semakin ramai,semakin penuh oleh murid-murid perempuan.Aku tak mungkin menangis di dalam keramaian seperti ini.
            “Udah ya,jangan nangis.” Ucap Jihan.Aku diam.Tak tahu harus berkata “YA” atau “TIDAK” karena ku rasa masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatiku,tapi aku tak mungkin melanjutkan tangisku.
                                                            ****
            Mala mini,ku rebahkan tubuhku ke atas tempat tidur.Ku pandang langit-langit kamarku yang berwarna putih.Ku ingat-ingat kembali kejadian tadi siang di sekolah.
            Aku lega aku bisa menangis,karena sejak selesai ulangan harian agama aku memang sudah ingin menangis.Rasa kecewaku cukup terobati.
            Tapi..Aku tak tahu,tadi siang apa yang ku tangisi.Benarkah aku menangisi kekecewaanku terhadap nilai ulanganku?Atau aku menangisi hal lain.
            Masih ada sedikit perasaan yang mengganjal di dalam hatiku.Aku tak tahu perasaan apa itu.Kecewakah?Atau perasaan takut?Aku tak tahu,yang jelas,perasaan ini tak ingin membuatku menangis,hanya terasa sangat mengganjal,tapi tak lebih mengganjal dari perasaan kecewaku terhadap nilai ulanganku.Tapi..Rasa apakah ini?




The End












Short Story By: Mu’allimah Rosyida (ImaRosyi)
                        9th.E,Wonosobo Muhammadiyah JHS
Copyright © ImaRosyi 2012
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: