Sahabat..Aku suka Kamu                                          Sorry,if in you...

Sahabat..Aku Suka Kamu

By | Sabtu, Agustus 25, 2012 Leave a Comment

                                                   Sahabat..Aku suka Kamu

                       
                 Sorry,if in your mind it’s so bad.But,I hope you enjoy it.


Jam menunjukkan pukul setengah tiga sore.Rama dan Lian diselimuti dengan kebisuan diantara diri mereka masing-masing. “An,soalnya susah-susah banget sih?” Keluh Rama memecahkan kebisuan diantara mereka. Lian,cewek blasteran Malang-Singapore itu hanya melirik sekilas ke arah Rama. “Kemarinkan udah aku jelasin.Salah kamu sendiri kalau aku suruh belajar nggak mau.” Ucap Lian ketus. “Siapa yang nggak mau belajar?Tiap malem juga aku udah belajar.” Ucap Rama sambil menggaruk-garuk kepalanya yang berkutu Eh,salah maksudnya yang sama sekali tak gatal.Lian tak menggubris Rama,dia asyik dengan soal-soal fisika di hadapannya.


            Setengah jam berlalu. “Selesai.” Ucap Lian mengembangkan senyumnya. “Gilak,PR fisikamu udah selesai?” Tanya Rama membelalakkan matanya. Lian hanya mengangguk sambil tersenyum. “Yang bener aja?Pak Wawan kan ngasih 120 soal,masa udah selesai semua?” “Cuma 120 puluh Ma,bukan seribu.” Rama hanya mampu menelan ludahnya. “Nih,tugas dari kamu udah selesai.” Ucap Rama sambil menyerahkan buku tulisnya kepada Lian. “Udah semua?” Tanya Lian ragu. “He..,kurang dua.” Ucap Rama nyengir. “Selesaiin dulu gih.” “Ogah,susah banget.Udah deh,tinggal dinilai seadanya.” “iiih!!Selesaiin dulu kenapa?Cuma kurang dua juga!” “Susah Lian,aku kan bukan kamu yang bisa nyelesain 120 soal dalam waktu kurang lebih satu jam.Buruan gih tinggal dinilai seadanya.”  Lian memasang wajah jengkelnya.Dengan wajah serius iya mengoreksi jawaban milik ‘anak didiknya’ itu. Tak ada lima menit,ia telah selesai mengoreksi 13 butir jawaban. “Nih” ucap Lian ketus sambil menyerahkan buku tulis milik Rama. “Jiaahhh,masa Cuma 80?” Protes Rama. “Mau berapa?90?Ogah!!Orang yang dua nomer aja nggak kamu kerjain.Lagian itu salah dua nomer.” “85 kek” “Heh,nawar!Itu juga nggak mempengaruhi nilai rapot sekolah.Emangnya aku guru Fisika beneran?Lagian ya Ma,kerjaan kamu kali ini udah ada peningkatan dari pada yang kemarin-kemarin.Biasanya kamu paling tinggi nilainya 70.” Ucap Lian bersemangat.Rama Cuma bisa pasrah.

            “An,ke luar Yook.” Ajak Rama “Kemana?” “Ke taman rumahmu.” “Mau ngapain?” “Cari angin,suntuk aku sejak tadi dicekoki soal-soal fisika sama kamu.Sekalian nunggu sopirku jemput.” Lian menuruti ajakan Rama.

            Taman rumah itu terletak di dalam rumah,dibagian tengah.Taman dengan kolam ikan yang jernih dan berbagai tanaman hijau itu nampak begitu indah. “An..” Rama memanggil Lian sambil duduk di pinggir kolam ikan. “Hmm??” Ucap Lian sambil mencelupkan kakinya ke dalam kolam ikan. “Tentang cewek itu..” “Cewek yang mana?” “Itu,cewek yang beberapa hari lalu aku ceritain ke kamu.” “Oh,itu..kenapa?” Lian tak menatap Rama.Sama sekali tak menatap. “Aku rasa aku beneran suka sama dia.” Ucap Rama sambil memandang langit sore. “Terus..??” Tanya Lian asal,karena ia tak tahu harus berkata apa. “Kamu bisa kasih solusi?” Tanya Rama kaku. “Solusi?Solusi gimana?” Tanya Lian balik.”Ya solusi,aku harus gimana buat ngadepin perasaan aku ini?” “Tembak aja,biar lega.” Diam,sepi sesaat.Kebisuan kembali menyelimuti Rama dan Lian.

            “An,kamu tahu nggak apa yang bikin aku suka sama cewek itu?” Tanya Rama sambil menatap gadis berjilbab dihadapannya dengan lekat.Lian hanya menggelengkan kepalanya.Rama menarik napas panjang. “Dia itu beda.Beda banget dari anak-anak cewek yang aku kenal selama ini.Dia itu,terkesan pindiem,kalem,kalau di kelas pinter.” Lian menoleh ke arah Rama, “Sekelas sama kita?” Tanya Lian. Rama mengangguk. “Siapa?” “Dengerin dulu ceritaku.” Rama melanjutkan ceritanya. “Menurut aku dia itu anaknya bertanggung jawab.Kalau  jadwalnya dia piket ya dia piket,nggak kaya anak cewek yang lain.Terus..,dia itu kesannya judes banget kalau sama anak cowok.”

            Matahari masih menampakkan senyumnya dilangit biru. “Dia juga kayanya pemalu.Tapi..enam bulan yang lalu aku deket sama dia.Dan kedeketanku itu bikin aku tahu siapa dia yang sebenarnya.Dia itu..beda banget sama anak-anak cewek di kelas aku.” “Kok bisa deket?” Tanya Lian heran.Rama menarik napas panjang,diam beberapa detik lalu mulai bercerita.
“Nggak sengaja aku sama dia Les di tempat yang sama.Tapi kita beda kelas,aku ngambil kelas Matematika,dia ngambil music.Di tempat les itu,dia tunjukin jati dirinya yang sebenarnya.Dia itu ternyata bisa narsis and centil banget,pinter basket.Dan setelah aku perhatiin,ternyata gaya jalannya itu kaya anak cowok.” Lian sedikit tercengang.“Dia itu enak diajak curhat,aku pernah bilang ke dia kalu aku paling nggak sukasama maple IPA.Dia pernah bilang ke aku,kalau aku mau dia mau nge-lesin aku IPA,aku kira dia bercanda,tenryata dia beneran mau.Yaudah,aku les IPA aja sama dia secera free.Sejak aku les sama dia aku jadi feket sama dia.”

Rama masih melanjutkan ceritanya “Dia tu ternyata tomboy,lucu,sukanya bikin temen-temen Lesnya dia ketawa dan menurut aku dia itu mandiri.Karena dia sering banget dirumah sendiri,tanpa ada pembantu dirumahnya.Ibunya sudah lama meninggal sejak dia umur empat tahun,ayahnya dokter,jadi seirng keluar kota,bahkan luar negri.Terus,dia itu anaknya sabar dan sukanya ngalah” Lian tercengang ,dia menoleh ke arah Rama. Rama yang merasa diperhatikan tajam oleh Lian balik menolah sambil tersenyum. “Kamu tahu siapa cewek yang aku maksud?” Tanya Rama sambil tersenyum manis bahkan snagat manis! Lian menggeleng sambil ternganga. “Cewek itu sekarang ada di hadapan aku,lagi aku ajak ngobrol.”

            Dug!!Ada suatu hantaman yang keras didalam relung hati Lian. “An,aku suka sama kamu.” Ucap Rama dengan enjoynya. “Terus?” Tanya Lian cuek. “Ya,pengin bilang aja,nggak papakan kalau aku bilang gitu.” Lian tak merespon apapun. “Ya,aku bilang kaya gini Cuma buat nge-legain perasaan aku aja.Bukan berarti aku minta kamu buat jadi pacar aku.Karena aku tahu,kamu paling benci sama yang namanya pacaran.Dulu kamu pernah bilang,pacaran itu kadang percuma.Nggak ada gunanya,karena pacaran belum tentu saling memiliki.Kamu bilang,pacaran itu bisa jadi ajang nabung dosa,karena orang pacaran itu biasanya pegang-pegangan tangan.Padahalkan bukan muhrim.Jadi aku bilang kaya gini,bukan karena aku pengin kamu jadi pacar aku.” Ucap Rama panjang kali lebar kali tinggi sambil tersenyum merekah.

            Tiga menit..lima menit..sepuluh menit.Mereka diselimuti kebisuan kembali. “Kamu An?” Tanya Rama. “Aku?Apanya?” Tanya Lian tak mengerti. “Perasaan kamu ke aku gimana.?” Lian tercengang. “aku?” rama mengangguk. “Gimana ya??mmm.. “ Lian memutus ucapannya agak lama. “Apa?” Tanya Rama “may be,what I feel like what you feel.” Jawab Lian canggung. “Suka sebagai?” Tanya Rama serius. “Sebagai…sebagai..” Lian benar-benar salah tingkah. “Sebagai seorag cewek ke cowok.” Lian buru buru membelakangi Rama lalu menutup wajahnya dengan jilbabnya. Senyum Rama benar-benar merekah.
           
Langit sore ini sangat cerah,secerah perasaan dua cucu adam yang baru saja menyatakan perasaan mereka masing-masing.


Short Story By: Mu’allimah Rosyida (ImaRosyi),9th E
Copyright: ImaRosyi
More story click: http://www.ima-rosyi.blogspot.com

Posting Lebih Baru Beranda

0 komentar: