“Makasih ya Dick, kamu sudah lakuin apa yang aku minta.” Ucap Devi mencoba tersenyum manis kepada Dicky. Dicky diam, ia tak m...

Merelakan

By | Sabtu, Agustus 25, 2012 Leave a Comment
            “Makasih ya Dick, kamu sudah lakuin apa yang aku minta.” Ucap Devi mencoba tersenyum manis kepada Dicky. Dicky diam, ia tak memberikan respon apapun pada Devi.

            “Aku bisa ngerasain kebahagiaan Rissa. Waktu dia cerita ke aku,kalau kamu nembak dia.Nada bicaranya kedengaran ceria banget. Dia nggak berhenti tersenyum.” Ucap Devi tanpa melihat ke arah Dicky. Dicky masih diam,masih tak memberikan respon apapun pada Devi. Devi meraih tangan Dicky, ia menggenggam tangan cowok di hadapannya dengan lembut.


            “Aku mohon Dick, kamu harus memperlakukan Rissa sama kaya aku. Aku minta kamu kasih perhatian lebih ke dia.” Ucap Devi memohon. Dicky menepis tangan Devi. Ia menarik napas panjang,mengontrol emosinya.


            “Aku lakuin semua ini cuma buat kamu Dev. Ingat,rasa sayang aku ke Rissa cuma sebagai sahabat. Nggak lebih dari itu.Kalau bukan kamu yang minta supaya aku nembak Rissa, aku nggak akan melakukan itu.” Ucap Dicky menatap Devi lekat. Devi diam, mencoba menguatkan perasaannya.

            “Sampai kapan aku harus pura-pura suka sama Rissa?Sampai kapan aku harus pacaran sama dia Dev?” Tanya Dicky, ia mulai tak bisa mengontrol amarahnya.
            “Aku kan sudah bilang. Sampai Rissa sembuh. Aku yakin Dick, kamu bisa ngasih dia semangat. Aku yakin,dengan semua perhatian dan kasih sayang yang kamu beri ke dia, dia bisa bertahan melawan penyakitnya.” Ucap Devi menahan tangis.
            “Iya aku  tahu itu! Tapi kapan dia sembuh? Setahun lagi? Atau dia nggak sembuh,terus aku harus jadi pacarnya sampai dia mati!” Ucap Dicky membentak,amarahnya lepas. Emosinya tak terkontrol.
            “Dicky! Jangan pernah bilang,kalau penyakitnya Rissa nggak akan sembuh! Aku yakin penyakitnya akan sembuh. Semangat dari orang-orang disekitarnya akan bikin dia kuat melawan penyakitnya,aku yakin itu. Terutama semangat dari kamu Dick.”  Ucap Devi setengah membentak,matanya mulai berkaca-kaca.

            “Kenapa sih Dev,sejak awal aku sama kamu jadian,kenapa kamu nggak pernah cerita sama Rissa?Kalau kamu cerita sama Rissa,bahwa aku ini pacar kamu,semua ini nggak akan terjadi.”

            “Pertama kali masuk SMA,Rissa sudah suka duluan sama kamu.Dia banyak cerita tentang kamu.Setahun di SMA,rasa suka aku ke kamu baru tumbuh,hingga kamu nembak aku.Makanya aku nggak pernah cerita ke Rissa kalau aku sama kamu jadian.” Devi mencoba menahan air yang memenuhi kelopak matanya agar tak jatuh ke pipinya.

            “Dick,aku mohon. Demi aku,kalau kamu sayang sama aku. Tolong jaga Rissa, kasih dia semangat untuk melawan penyakitnya. Aku nggak pernah mau kehilangan dia. Dia sudah lebih dari sahabat aku, dia sudah kaya nyawa keduaku.” Ucap Devi memohon. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia tak kuasa menahan tangis. Dicky menatap Devi penuh iba. Ia mengusap air mata gadis itu.
            “Iya,aku janji. Tapi semua itu demi kamu.” Ucap Dicky penuh rasa terpaksa.

                                                            ***
                        Lorong rumah sakit itu nampak sepi.Seorang gadis berjalan sendiri,menelusuri lorong rumah sakit itu.Ia behenti di depan sebuah kamar,lalu ia masuk ke dalan kamar tesrsebut.Gadis itu adalah Devi.
            “Hai Ris.” Ucap Devi pada seorang gadis berambut panjang yang tengah berbaring di atas tempat tidur.

            “Hai Dev.” Sapa gadis berambut panjang tadi.

            “Oh ya, Dicky nggak bisa datang. Soalnya dia sama pengurus OSIS lainnya lagi ada acara pa gitu.” Ucap Devi pada gadis di hadapannya—Rissa.

            “Aku sudah tahu kok. Dia tadi sudah sms.”

            “Oh ya,sudah minum obat belum.?”

            “Sudah. Tadi pagi.”

            “Ye,tadi pagi. Sekarang kan sudah siang.Minum obatnya kan sehari empat kali. Diminum lagi dong.”
            “Nanti deh, males.”

            “Kalau males kapan sembuhnya?”

            “Orang aku minumnya baru jam sepuluh tadi.Sekarangkan masih jam satu.Nanti deh,setengah tiga.”
            “Ya sudah kalau gitu. Beneran lho diminum,awas kalau nggak.” Ucap Devi mengancam.Rissa terseyum dan mengangguk. Sesaat, sunyi menyelimuti mereka berdua. Hingga Rissa memulai perbincang.
            “Dev.Aku senang banget. Di saat aku jatuh sakit kaya gini. Tuhan menghadirkan orang-orang yang aku sayang di sisi aku. Mama, walau dia nggak bisa pulang ke Indonesia, tapi tiap malam dia selalu telpon aku. Papa,aku yakin, di surga sana,dia tahu keadaan aku, aku yakin papa selalu memberi aku semangat. Sahabat-sahabat aku,yang sering nengok aku. Terutama kamu Dev, walau kita nggak sahabatan dari kecil, buat aku, kamu sahabat yang paling ngertiin aku. Sahabat yang selalu ada buat aku.” Rissa diam beberapa detik, ia membasahi kerongkongannya dengan ludahnya.

            “Terus,tiba-tiba Dicky nembak aku. Hal itu benar-benar sebuah miracle buat aku. Aku senang banget Dev. Aku yakin, semua itu karena Tuhan sayang sama aku.Walau aku sakit kaya gini,aku masih bisa merasakan cinta yang tulus dari orang-orang disekitarku.” Rissa tersenyum manis.

            “Tuhan emang sayang sama kamu Ris. Sama kaya aku,aku juga sayang banget sama sahabatku ini. Makanya,kamu harus rajin minum obat, biar kamu sembuh,biar orang-orang yang sayang sama kamu nggak kehilangan kamu. Biar kamu bisa kumpul lagi sama Mama kamu, sama aku,dan sama Dicky. Kalian berduakan baru dua kali jalan bareng.” Ucap Devi menggenggam tangan Rissa erat-erat. Ia mencoba tersenyum manis, menahan sedih yang sudah mengoyak-ngoyak perasaannya.
                                                                        ****
            Sore ini,matahari nampak menyembunyikan sebagian tubuhnya di sebelah barat. Sinarnya masih membuat langit sore ini cukup bercahaya. Tiga orang anak manusia tengah menikmati suasana sore di taman rumah sakit.

            “Makasih ya Dev, Dick, kalian sudah mau nganter aku jalan-jalan.Jadi ngrepotin” Ucap Rissa pada Devi dan Dicky.
            “Sama-sama Ris.Lagian,kalau kamu nggak kita antar, terus terjadi apa-apa, itu malah yang bikin kita repot.” Ucap Devi tersenyum manis. Rissa mengembangkan senyumnya.
           
            “Makasih juga, karena kalian, Mama jadi pulang buat jenguk aku.”

            “Makasihnya sama Dicky aja. Dia kan yang ngrayu Mama kamu.”

            “Apaan sih Dev. Itu kan sudah kewajiban aku, suapaya orang yang aku sayang bisa tersenyum dan merasa bahagia. Aku kan tahu, kalau kamu kangen banget sama Mama kamu.” Ucap Dicky mencoba memberikan senyum termanisnya pada Rissa. Rissa dan Devi tersenyum.

            “Dick, kamu mau nggak janji sama aku? Janji kalau kamu nggak akan pernah ninggalin aku?” Tanya Rissa pada Dicky penuh harapan. Dicky tercengang mendengar pertanyaan Rissa. Ia menatap lekat ke arah Devi. Devi menganggukkan kepalanya. Dicky diam,ia tak menjawab pertanyaan Rissa.

            “Dick,mau kan janji sama aku?” Tanya Rissa kembali. Dicky kembali menatap Devi, untuk yang kedua kalinya Devi menganggukkan kepalanya. Dengan keterpaksaan yang sangat Dikcy menganggukkan kepalanya dan mengulurkan kelingkingnya.

            “Janji.Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu. Saat kamu butuh aku,apapun keadaan kamu.Aku akan ada buat kamu.” Ucap Dicky mencoba tersenyum manis.Rissa meraih kelingking Dicky dengan kelingkingnya.
            “Dev, kamu mau kan jadi saksi atas janjinya Dicky?” Tanya Rissa pada Devi.
            “Oh, ya jelas dong. Pokoknya aku akan jadi saksi hidup yang mengetahui perjanjian kalian berdua.” Ucap Devi sambil merangkul Rissa dan Dicky.

                                                                        ***
            Jalanan di depan cafe nampak basah, langit belum berhenti menurunkan hujan. Cafe yang tak terlalu besar itu tak terlalu ramai oleh pengunjung. Sekitar dua puluh menit yang lalu, Dicky dan Devi duduk di bangku nomer sebelas dengan kebisuan diantara mereka.
           
            “Kata dokter,penyakitnya sudah nggak bisa disembuhkan. Dia cuma bisa bertahan beberapa bulan lagi.” Ucap Dicky pada Devi sambil mengaduk secangkir kopi di hadapannya. Devi diam,menahan tangisnya.

            “Aku pengin kita putus.” Ucap Devi tanpa basa-basi. Dicky membelalakkan matanya.
            “Apa? Putus? Kenapa? Gara-gara Rissa?” Tanya Dicky tak percaya
“Aku nggak mau putus! Hampir tiga tahun kita pacaran, terus kamu bilang putus. Aku bakalan mutusin Rissa dan jelasin semuanya ke dia.” Ucap Dicky setengah membentak. Devi menggenggam tangan Dicky erat-erat. Air matanya mulai menetes.
            “Jangan Dick.Aku mohon,kita putus.Lupain aku,kamu harus ngutamain Rissa.” Ucap Devi terisak.
            “Segampang itu kamu mutusin aku?Atau..Jangan-jangan kamu sudh nggak sayang sama aku,terus kamu sudah dapetin pengganti aku,iya?”
            “Nggak Dick. Aku sayang sama kamu, sayang banget. Aku nggak mau kehilangan kamu. Tapi aku juga nggak mau kehilangan Rissa. Please, beri dia semangat, sampai dia benar-benar sembuh. Walau kata dokter dia nggak bisa sembuh. Lagian kan kamu sudah janji sama Rissa, bahwa kamu akan selalu ada buat dia.”

            “Aku nggak benar-benar janji sama dia.Aku terpakasa Dev!”
            “Janji tetap janji, kamu harus nepati semua itu,terpaksa atau nggak terpaksa, yang jelas kamu sudah janji. Kalau kamu sayang sama aku,aku mohon kita putus. Lupain aku, mungkin Tuhan emang nggak menghendaki kita bersama.” Devi tak kuasa menahan tangisnya.Dicky mengatur napasnya yang tak karuan karena emosinya naik. Lima menit..sepuluh menit..bermenit-menit kebisuan menemani mereka berdua.
           
            “Oke Dev, kalau itu mau kamu.” Ucap Dicky lirih.
            “Tapi ingat! Aku lakuin semua ini demi kamu, karena aku sayang dan cinta sama kamu, bukan demi Rissa.” Ucap Dicky memandang Devi tajam.
                                                            ***
            Malam ini, Devi menghabiskan seluruh waktunya di kamar tidurnya. Menghabiskan air matanya, mencoba menenangkan perasaannya yang tak karuan. Ia mencoba untuk tak menyesali keputusan yang telah ia buat.Ia menyayangi Dicky, namun ia juga menyayangi Rissa. Ia tak mau kehilangan Dicky,tapi  ia tak mau kehilangan Rissa.

            Rasa sesal sebenarnya datang di hatinya,namun ia mencoba membuang rasa sesal itu jauh-jauh, dan menggantinya dengan perasaan ikhlas dan tabah. Demi sahabat terbaiknya—Rissa.

                                                            ^^^The End^^^





Short Story By: Mu’allimah Rosyida (ImaRosyi)
                        9thE,SMP Muhammadiyah 1 Wonosobo
©Copyright: ImaRosyi 2012




























Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: