Latest Posts

Jika di artikel sebelumnya aku sudah membahas bagaimana aku bisa tahu bahwa orangtuaku bercerai.  Kali ini aku akan membahas mengena...


Jika di artikel sebelumnya aku sudah membahas bagaimana aku bisa tahu bahwa orangtuaku bercerai. 

Kali ini aku akan membahas mengenai dampak dari perceraian kedua orangtuaku.
Sebelumnya sebagai informasi, setelah orangtuaku sah bercerai hak asuh anak jadi milik ummiku (aku dan kakakku terima jadi, nggak ditanya mau ikut abah atau ummi, nggak diberi kesempatan buat memulih) aku nggak tahu bagaimana caranya hakim memutuskan bahwa hak asuh berada di tangan ummiku, mungkin ummiku lebih mampu secara materi (sebenarnya yang mampu secara materi adalah simbahku dari ummi) sedangkan abahku kala itu masih kere (tapi setelah aku besar, ummiku bilang bahwa di mana-mana, jika anak masih di bawah umur maka hak asuh bakal jadi milik ibu, nggak tahu benar atau salah).

Apa yang terjadi setelah orangtuaku cerai? 

Aku nggak sedih, nggak nangis, aku sendiri juga bingung apa yang aku rasakan saat itu, mungkin sebenarnya aku kecewa.

Aku jadi nakal nggak?

Iya aku jadi nakal. Tapi nggak yang gimana-gimana, nggak ngerokok, nggak narkoba, nggak seks bebas soalnya aku masih kelas dua SD waktu itu. Kenakalanku lebih ke aku malas sholat, malas sekolah, suka ngomong kasar dan kotor, susah dibilangin/dinasihati.

Tapi sebenarnya sejak sebelum mereka bercerai aku sudah malas sekolah duluan ding. Kenapa? Karena aku nggak bisa mendapatkan teman yang cocok sama aku, itu waktu TK. Waktu SD lebih karena aku nggak suka dengan rutinitas sekolah yang membosankan: harus bangun pagi, harus pakai seragam, harus belajar sesuai jadwal dari jam segini sampai jam segini, harus belajar sesuai materi yang sudah dikasih.

Namun setelah orangtuaku bercerai ada satu dampak positif yang aku dapatkan: jadi berani berinteraksi dengan orang lain, jadi punya teman. Mungkin karena aku nggak tahu lagi harus mengungkapkan kemarahanku kepada siapa, makanya aku jadi berani ngomong dengan orang lain dan cerita ke semua temanku kalau orangtuaku sudah cerai. (Tapi, walaupun jadi berani ngomong dengan orang lain dan punya teman, aku nggak merasa dekat dengan mereka, nggak merasa bahwa mereka sahabatku sekadar teman buat ngobrol saja).

Pernah nggak aku minta mereka buat balikan?

Aku pernah bilang ke ummi supaya balikan sama abah, tapi nggak berani bilang ke abah (karena waktu itu ikut ummi jadi merasa lebih dekat ke ummi, nggak berani bilang ke abah).

Apa tanggapan ummi? 

Aku lupa waktu aku minta supaya mereka balikan dia ngomong gimana. Tapi aku ingat pernah suatu malam waktu abah nengok aku, ummi bicara sesuatu yang intinya minta rujuk karena barangkali ummi sudah nggak sanggup membujuk aku agar mau sekolah. Mungkin ummi berpikir jika balikan sama abah maka aku bakal rajin sekolah.

Apa respon abah? 

Beliau nggak mau balikan. Mungkin karena sudah terlanjur sakit hati karena diceraikan dan barangkali dia trauma, udah nggak percaya sama ummi, takut kalau nanti balikan ujung-ujungnya cerai lagi. Abah maunya dari awal nggak cerai, tapi ummi minta cerai. Giliran udah  cerai ummi minta balikan, maka abah pun nggak mau balikan.

Akhirnya, sampai detik ini mereka nggak pernah balikan sama sekali.

Terus nasibku gimana setelah itu?

Ya aku hampir dua tahun malas sekolah. Pindah sekolah melulu karena bosan sama satu sekolah. Alhasil selama aku di Jogja (selama ikut ummi) aku pindah SD sebanyak 9 (sembilan) kali.
Hobiku pindah sekolah berhenti waktu ikut abah ke Wonosobo (waktu itu abah kerja di wonosobo, di koperasi swasta punya sahabatnya)

Terus, gimana ceritanya aku bisa berhenti pindah-pindah sekolah?

 Di artikelku yang selanjutnya bakal aku ceritakan gimana ceritanya kok aku yang malas banget sekolah dan hobi pindah-pindah sekolah bisa-bisanya jadi rajin sekolah.


Kapan aku tahu kalau orangtuaku cerai? Waktu aku kelas 1 SD. Kalau pertanyaannya: kapan aku tahu orangtuaku akan cerai? Waktu umurku 5 tahu...

Kapan aku tahu kalau orangtuaku cerai? Waktu aku kelas 1 SD. Kalau pertanyaannya: kapan aku tahu orangtuaku akan cerai? Waktu umurku 5 tahun kalau nggak ya 6 tahun. Pokoknya waktu aku sudah bisa mikir dan nggak bego-bego amat sebagai anak kecil buat dibohongi (ya walaupun waktu itu masih ada gigi yang gigis, suka ngompol dan masih disuapi kalau makan).

Kok bisa tahu kalau orangtua mau cerai? Sebenarnya aku juga nggak tahu gimana aku bisa tahu hal itu. Sepertinya hal itu adalah kelebihan tersendiri yang Allah berikah ke aku, bisa dibilang aku cukup cerdas karena diusia yang masih 5-6 tahun sudah bisa mengendus bau-bau perceraian orangtua.

FYI, Ummiku terlahir dari keluarga berada. Dia juga anak bontot seperti aku. Bedanya dia terlalu dimanja oleh simbahku. Di sisi lain Abah dari keluarga yang miskin (seriusan, miskin sungguhan). Maka, Ummi merasa nggak betah waktu menikah dengan Abah.

Lho, kok, dulu mau waktu diajak nikah? Iya, soalnya Abah anak Fakultas Kehutanan UGM, sedangkan Ummi anak STIE YKPN. Barangkali Ummi terlalu bangga kalau bisa nikah dengan anak UGM. Makanya mau-mau saja waktu diajak nikah sama Abah. Sayangnya, beliau nggak benar-benar mau diajak berjuang dari nol bareng Abah.

Karena Abah itu kere, maka Ummi nggak betah dan merasa tidak dinafkahi. Lalu aku sering lihat mereka bertengkar. Pertengkaran yang selalu Abah lalui dengan diam dan diakhiri dengan pergi ke suatu tempat. Kadang Abah ngajak aku dan Mbakku jalan-jalan keluar buat cari angin segar. Balik ke rumah 2-5 jam kemudian, ya sekiranya kalau Ummiku udah nggak marah-marah lagi.

Sejak kapan mereka bertengkar? Ah, aku nggak ingat sejak kapan mereka suka bertengkar. Tapi seingatku setelah aku masuk TK mereka sering bertengkar karena barangkali di rumah cuma ada beras, nggak ada lauk. Ya kalau ada lauk paling cuma pakai tempe. Atau waktu PLN tiba-tiba matiin listrik di rumah karena nunggak bayar (zaman aku kecil belum ada meteran pulsa prabayar, adanya meteran manual/pasca bayar)

Sejak mereka bertengkar. Pakdhe-Budhe dan Simbahku sering datang ke rumah. Berkumpul, ngomongin sesuatu. Aku nggak tahu apa saja yang mereka omongkan. Karena pasti kalau mereka datang ke rumah, mereka ngobrol di suatu ruangan yang agak jauh dari kamar tidurku dan mbakku.

Sengitnya aku dengan kedatangan mereka adalah, mereka hampir selalu datang waktu aku, mbakku dan Abahku sedang belajar, guyon (bercanda), cerita atau waktu aku dan mbakku sedang disuapi Abah. Mereka datang. Lalu aku dan mbakku ditidurkan di kamar tidur supaya nggak dengar pembicaraan mereka.

Waktu itu aku belum lancar bahasa Jawa. Jadi sebenarnya, sekalipun aku dengar apa yang mereka bahas, aku nggak akan tahu artinya. Tapi mau mereka pakai bahasa Jawa atau Indonesia. Mau aku paham terjemahannya atau nggak, aku tahu tujuan kedatangan mereka: menengahi pertengkaran Abah dan Ummi, dan cara menengahi pertengkaran mereka dengan memberikan satu solusi: cerai.


Setelah tahu kalau orangtuaku akan cerai, aku sering bertanya dalam hati: besok aku pilih ikut Abah atau Ummi, ya? Kalau mereka jadi cerai rasanya kayak gimana, ya? Mereka seriusan nih mau cerai?

Takut? Iyalah! Taik, nggak usah ditanya! Bayangkan saja, belum genap 7 tahun dan dibayang-bayangin orangtua bakal cerai. Sedih? Aku nggak tahu sedih atau nggak, karena aku nggak pernah nangis ketika tahu mereka akan cerai. Bahkan setelah mereka cerai pun aku nggak nangis. Mungkin cuma takut dan kecewa.

Tahu mereka akan cerai di usia yang masih dini tanpa mereka beritahu, buatku adalah anugerah dari Allah. Karena bagiku itu merupakan suatu kecerdasan tersendiri.

Tapi tahu mereka akan cerai di usiaku yang masih dini juga menjadi sebuah kebodohan buatku. Kenapa? Iya, karena aku tahu mereka bakal cerai tapi aku sama sekali nggak berani melarang mereka buat bercerai. Aku nggak berani bilang bahwa aku nggak ingin mereka cerai. GOBLOK BANGET SUMPAH, GOBLOK se-GOBLOK GOBLOKNYA GOBLOK.


Jadi kadang aku kagum dengan kercerdasanku yang satu itu, tapi kadang juga meratapi ketidakberanianku buat melarang mereka bercerai padahal aku tahu banget kalau aku nggak pingin orangtuaku cerai.

Lalu, kapan aku tahu kalau mereka cerai? Waktu tiba-tiba Abah dapat kerja di luar kota. Di Banjarnegara, Jawa Tengah. Awalnya aku mikir bahwa Abah diusir dari rumah, nggak tahu sungguhan kerja di Banjarnegara atau nggak. Lalu saat aku dan kakakku lebaran di rumah Simbahku yang dari Abah yang ada di Ngawi, Jawa Timur.

Waktu itu Abah ngobrol dengan Pakdhe-Budhe; Paklik-Bulik dan simbah puteriku (simbah kakungku yang dari Abah sudah meninggal jauh sebelum aku dibikin :p) Aku nggak tahu mereka ngomongin apa, tapi aku dengar ada kata-kata PISAH dan CERAI. Abahku ngobrok campuran bahasa Jawa Timuran dan bahasa Indonesia. Waktu itu sih aku nggak ikut nimbrung, cuma karena Abah orang Jawa Timur jadi kalau ngomong agak keras, jadilah aku dengar obrolan mereka.

Begitu dengar kata-kata PISAH dan CERAI aku berusaha nguping dan berusaha memahami bahasa Jawatimuran Abah dan saudara-saudaranya,

Sepulangnya ke Jogja, ke rumah Ummi. Aku tanya ke Ummi: apa Abah dan Ummi udah cerai? Ummi jawab: nggak. Beliau jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu. Aku tanya lagi, dia balas tanya: kamu kata siapa? aku jawab: bukan kata siapa-siapa (lha wong memang aku nggak dikasih tahu siapa-siapa, tapi nguping :p) Kutanya lagi, dia diam. Ya kalau begitu tanggapan dia, kusimpulkan kalau orangtuaku betulan cerai.


Oke, jadi seperti itulah awal mula aku tahu kalau orangtuaku akan cerai. Perasaanku. Kaget, kecewa tapi nggak nangis.

Lalu apakah aku jadi anak nakal? Apakah aku jadi mabuk-mabukan, ngrokok , narkoba, seks bebas sebagai bentuk melampiaskan kekecewaanku akan perceraian mereka?

YA NGGAK LAH! Lha wong mereka cerai waktu aku masih SD kelas 1. Nggak sampai ke situlah pikiranku. Tapi aku jadi malas sekolah. Bahkan aku pindah SD sampai 10 kali. Mulai dari sekolah Islam Terpadu (IT), Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Sekolah Muhammadiyah, Pondok Pesantren NU, Pondok Pesantren salafi pernah kumasukkin semua saking malas dan nggak betahnya aku sekolah. Selain itu aku jadi suka misuh (mengumpat) pisuhan andalanku kala itu adalah ASU dan Tit*t, nggak pernah sholat, ngeyelan (bandel, susah dinasihatin). Tapi ajaibnya, waktu aku malas sekolah, aku rajin baca buku yang menurutku bagus. Aku juga rajin nggambar walau gambarku jelek.


BTW< sebenarnya sejak mereka belum cerai aku sudah malas sekolah. Setelah mereka bercerai, tambah malas lah aku. Jadi aku rasa kemalasanku selain karena aku memang nggak cocok sekolah di sekolah formal, juga sebagai pelampiasanku karena kesal mereka cerai: batinku saat itu: biar mereka tahu rasa, emang enak punya anak malas sekolah. Ngapain aku kudu nurutin keinginan mereka supaya aku sekolah. Lha wong mereka saja nggak paham kalau aku nggak ingin mereka cerai. Cih, sudi amat nurutin kemauan mereka, mereka saja nggak nurutin kemauanku.




Aku sudah lama punya blog, sejak kelas 1 atau 2 SMP kiranya (agak lupa juga tepatnya kapan). Awal mula membuat blog karena aku tertarik den...

Aku sudah lama punya blog, sejak kelas 1 atau 2 SMP kiranya (agak lupa juga tepatnya kapan). Awal mula membuat blog karena aku tertarik dengan dunia programming. Buat blog cuma suka utak-atik template-nya saja, tanpa tahu mau diisi dengan artikel apa.

Saat kelas 2 SMP hobiku menulis semakin aku gandrungi, selayaknya aku menggandrungi dunia programming. Akhirnya blogku ini aku isi dengan cerpen-cerpenku.

Sejak SMK aku jarang mengurus blogku, entah itu dari sisi programming-nya atau menulis artikel. Lulus SMK blog ini makin tidak terurus karena banyak hal di dunia nyata yang mesti aku urus.

Beberapa minggu lalu, akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan blogku ini sebagai wadah berbagi kepada teman-teman di luar sana yang mungkin kebetulan juga sama-sama broken home.

Oke, untuk kalian yang baru pertamakali mampir ke blogku entah karena tidak sengaja maupun sengaja tapi belum mengenalku, kini saatnya ku memperkenalkan diri.

Namaku ImaRosyi, itu nama pena Nama asliku nggak jauh-jauh amat dari nama pena tersebut. Kalian boleh panggil aku Ima atau Rosyi, tapi sejujurnya aku lebih suka dipanggil ImaRosyi. ImaRosyi sebenarnya terdiri dari 2 kata, tapi aku jadikan satu kata. Sudah sejak lama aku punya nama pena tersebut. Jadi aku akan lebih hepi kalau kalian memanggil satu rangkaian namaku: ImaRosyi, selayaknya Soekarno atau Soeharto.


Aku anak kedua dari dua bersaudara. Ya, aku anak bontot. Aku punya satu kaka perempuan. Aku sendiri casing-nya cewek tapi jiwanya masih menjadi rahasia Ilahi :v. 

Saat artikel ini kutulis, usiaku 20 tahun, mestinya sudah kuliah semester 5, tapi karena mengalami berbagai hal maka tahun ini aku baru masuk kuliah,

FYI, aku tumbuh besar selama tiga belas tahun dalam keluarga broken home. Abah dan Ummiku berpisah sewaktu umurku tujuh tahun. Kala itu aku masih kelas satu SD dan mendekati kenaikan kelas ke kelas 2 SD.

Apa yang aku rasakan waktu tahu orangtuaku cerai? Gimana awalnya aku tahu kalau orangtuaku cerai? Apa yang aku rasakan dan lakukan selama 13 tahun hidup sebagai anak broken home? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan aku bagi kepada teman-teman semua melalui blogku ini. Tapi bahasan itu bakal aku ceritakan di artikel berikutnya, karena artikel ini hanya sebagai opening, introducing, perkenalanku ke kalian.

Karena artikel ini hanya sebagai perkenalan saja, maka kurasa nggak perlulah panjang-panjang. Jadi sekian dulu, selamat bertemu di artikel berikutnya :)




Aku ingin pulang Tapi aku tak tahu ke mana harus kembali Apakah ke pangkuan ayah tanpa hadirnya ibu Atau ke pelukan ibu tanpa hadirn...

Aku ingin pulang
Tapi aku tak tahu ke mana harus kembali
Apakah ke pangkuan ayah tanpa hadirnya ibu
Atau ke pelukan ibu tanpa hadirnya ayah
Ataukah akau harus pulang pada sahabat-sahabatku, yang kini satu per satu mulai melangkah sendiri-sendiri pada jalan pilihan masing-masing?


Pada akhirnya aku tetap berada di tempat yang sama
Berkawan dengan kerinduan
Berpelukan dengan kesepian


Ada satu tempat yang masih bisa kukunjungi

Tuhan, aku ingin pulang ke rumah-Mu.
Tapi aku tahu pada akhirnya aku akan pulang ke sana
Dan jika aku bergegas kembali, barangkali Kau akan marah

Maka aku tetap di sini. Berkawan rindu dan dipeluk oleh sepi



Yogyakarta, 8 Februari 2017

BUTTON-Opening Relife By PENGUIN RESEARCH Download here:  DOWNLOAD

BUTTON-Opening Relife By PENGUIN RESEARCH

Download here: DOWNLOAD

Membatin cerpen oleh: ImaRosyi             Membatin cerpen oleh: ImaRosyi             Di cafe ini keduanya duduk berhadap...

Membatin
cerpen oleh: ImaRosyi


       
   Membatin
cerpen oleh: ImaRosyi
            Di cafe ini keduanya duduk berhadapan di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke jalan raya, dipisahkan oleh sebuah meja. Mereka saling tatap dan tersenyum setelah beberapa saat lalu saling berpelukan erat. Meyakinkan diri masing-masing bahwa pertemuan ini nyata adanya, bukan sekadar mimpi. Bahwa sosok di hadapan masing-masing sungguhan hadir, bukan sekadar ilusi yang diciptakan oleh otak dan benak masing-masing karena barangkali keduanya sudah sama-sama gila dan lelah menahan kerinduan selama lima tahun tanpa pernah bertemu sekali pun.
            “Apa-apaan, sih ini? Sampai kapan kita mau tatap-tatapan seperti ini?” Ali bertanya sembari menahan semburan tawanya.
            “Kamu sendiri kenapa sejak tadi cuma senyum sambil ngelihatin saya?”
            “Oke, cukup! Kamu apa kabar?”
Wanita di hadapannya tampak sehat dan baik-baik saja. Ali tak benar-benar tahu barangkali ada kesedihan dan rasa sakit dalam hati sahabat lamanya. Namun senyum wanita itu masih sama seperti dulu, terasa begitu manis dan dipenuhi kebahagiaan. Enam tahun bersamanya, cukup bagi Ali untuk mengetahui suasana hati sahabatnya tanpa perlu wanita itu memberitahukannya pada Ali. Sebab Ali bisa bedakan berbagai rasa yang dirasai sahabatnya cukup dari tatapan mata dan senyumannya. Dan kali ini Ali cukup yakin, bahwa sahabatnya baik-baik saja. Kalau bukan untuk mengakrabkan kembali kerenggangan selama lima tahun, Ali enggan untuk berbasa-basi.
Natasha diam barang lima detik. Mengulang pertanyaan Ali dalam hati buat dirinya sendiri. Lima tahun terakhir hidupnya sangat berbahagia. Hanya kerinduan kepada Ali yang membuat kebahagiaan itu kurang sempurna. Namun kini di hadapannya telah hadir sahabat yang sangat dirinduinya. Jadi, bukankah kini kebahagiaan itu menjadi sempurna? Maka ia baik-baik saja. “Seperti yang kamu lihat.” Jawabnya sambil tersenyum lebih lebar lagi, “kamu sendiri?”
Ali menelan ludah. Ada kerinduan yang telah lama ia pendam. Kerinduan kepada sahabat lamanya selama lima tahun. Selama itu, tak satu orang pun mengetahui jika ia hidup sebagai seorang perindu akut. Sahabat yang sangat dirindukannya pun tak mengetahui hal itu. Sebab ia tak pernah mengatakan kerinduan itu pada siapapun, karena ia terlalu takut unuk mengatakan rindu. Bahkan hanya merasai kerinduan ini pun telah membuatnya ketakutan. Maka selama lima tahun ia hanya bisa memendam kerinduan itu tanpa mengucapkannya pada siapapun termasuk orang yang dirinduinya. Menyimpan kerinduan itu rapat-rapat tanpa pernah ia rawat hingga berkarat dan membuatnya nyaris sekarat.
Ali tak pernah merawat kerinduan itu sebab ia tak tahu cara merawat kerinduan. Bahkan ia tak tahu bila kerinduan bisa dirawat, sepengetahuannya rindu tak bisa dirawat tetapi memiliki obat untuk membabatnya. Dan kini telah ia dapatkan obat itu: berjumpa dengan orang yang amat dirindukannya.
Namun Ali tak yakin bila pertemuan ini adalah obat yang tepat buat membabat kerinduan yang telah lama berkarat itu. Setelah ini, mereka akan kembali berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Setelah ini, ia akan kembali merindukan sahabat lamanya. Lalu buat apa pertemuan ini terjadi bila nanti kembali merindu? Tak bisakah rindu benar-benar dibabat tuntas? Pertemuan ini hanya seperti obat bius yang diberikan saat cabut gigi, tak ada rasa nyeri ketika dokter mencabut giginya, tetapi satu jam kemudian ketika giginya telah ompong, rasa sakit itu baru dirasainya. Sayangnya, setelah cabut gigi dokter akan memberikannya obat buat menghilangkan rasa nyeri yang tak lagi bisa ditangani oleh obat bius, sedangkan ia tak punya obat untuk menghilangkan kerinduan setelah pertemuan ini berakhir.
“Seperti yang kamu lihat juga. Saya baik-baik saja.” Ali tersenyum selebar mungkin. Setidaknya saat ini ia baik-baik saja. Soal nanti ia kembali sekarat karena menahan kerinduan adalah persoalan lain, toh wanita itu menanyakan kabarnya kali ini bukan nanti setelah pertemuan ini berakhir.
Lagi, keduanya terdiam. Berpisah selama lima tahun membuat keduanya benar-benar canggung. Bukankah seharusnya kecanggungan itu tak hadir, bila keduanya sama-sama mengklaim bahwa sosok di hadapan masing-masing adalah sahabat sejati yang sangat karib? Mestinya tadi mereka saling berpelukan erat, menjerit kegirangan dan saling memberi umpatan selayaknya sahabat karib.
Natasha menatap ke luar jendela. Di luar sana hujan mulai turun. Para pejalan kaki berlarian mencari tempat berteduh. Para pengendara sepeda motor menghentikan laju kendaraan mereka sejenak untuk mengenakan jas hujan. Mereka yang berada di dalam mobil maupun bus cukup duduk tenang pada kursi masing-masing sambil menatap jalanan. Dan udara kini perlahan berubah menjadi dingin.
“Jadi, gimana pekerjaan kamu?” Ali kembali bertanya, berusaha menghilangkan kecanggungan di antara keduanya yang terasa begitu menggelikan dan mencekik. “Sudah berapa pasien yang kamu suntik mati?” Lanjutnya sebelum Natasha menjawab pertanyaannya.
Natasha tersenyum lebar hingga gigi-gigi serinya yang berjajar rapi terlihat. “Syukur mereka semua masih hidup sampai saat ini. Kamu sendiri bagaimana? Fans kamu, para penggemarmu, sudah berapa banyak yang terpaksa dilarikan ke dokter telinga? Atau barangkali mesti dilarikan ke UGD gara-gara mendadak epilepsi.”
“Oh, setelah mendengarkan musik-musik saya,  awalnya mereka memang terserang epilepsi. Tapi setelah itu, mereka semua justru bisa mendengar batin seseorang, jadi nggak perlu dilarikan ke dokter telinga! Luar biasa, kan?”
“Wah! Luar biasa banget!”
“Dasar gila!”
“Kamu yang gila!”
Keduanya terbahak bersama hingga perut mereka terasa sakit, wajah memerah dan air mata berlinangan. Satu menit kemudian kecanggungan itu hilang sama sekali, segalanya mencair seperti saat mereka belum berpisah.
                                                            ***
Keduanya adalah kawan satu perguruan tinggi. Kala itu Ali masih menjadi calon pianis, sedangkan Natasha masih menjadi calon dokter.  Keduanya saling kenal ketika sama-sama bergabung dengan tim paduan suara kampus mereka.
Natasha tak menampik, sejak bertemu pertamakali dengan sahabatnya, ia segera mengagumi sosok itu. Dan ia tahu betul makin hari ia tak hanya mengagumi sahabatnya, tapi sungguh-sungguh memujanya, menyayanginya dan mecintainya. Natasha telah jatuh cinta, kepada sahabatnya sendiri.
Bagi Ali, Natasha hanyalah kawan satu unit kegiatan mahasiswa yang sama dengannya, tidak lebih dari itu. Setahun berlalu dan Ali tersadar bahwa wanita yang sekadar kawan satu unit kegiatan mahasiswa itu telah membuatnya merasai rasa yang tak pernah dirasai sebelumnya: cemburu. Ali sadar bahwa ia telah jatuh cinta. Natasha telah mencuri hatinya.
Empat tahun keduanya saling mengagumi dan memuja dalam hati. Tak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan masing-masing. Sebab, keduanya sama-sama takut untuk mengungkapkannya. Bukan sekadar takut mengetahui jawaban yang bakal menyakitkan perasaan. Namun mereka sama-sama takut bila seusai menyatakan perasaan masing-masing, akan ada jarak yang tercipta di antara keduanya. Maka bagi mereka, lebih baik tak pernah menyatakannya sama seakali tetapi dapat selalu bertemu dan bersama.
Usai meraih gelar sarjana, keduanya melanjutkan perjuangan meraih gelar magister. Tanpa sengaja keduanya mendapat beasiswa ke negara yang sama. Kota yang sama. Hanya perguruan tinggi yang berbeda. Diputuskanlah oleh keduanya untuk menyewa apartemen minimalis kelas ekonomi untuk tinggal bersama.
Dua tahun mereka hidup di bawah atap yang sama. Selama itu, mereka tak sekadar berjuang untuk meraih gelar magister, namun juga berjuang untuk tetap mengunci mulut mereka rapat-rapat dan mencekik leher masing-masing agar tiap kali kata cinta itu hendak diucap tenggorokan mereka jadi mampat sehingga kata cinta tak pernah diucap. Cuma lewat tindakan dan perbuatan mereka bisa ungkapkan rasa cinta itu.
Natasha tak pernah tahu, bila selama dua tahun itu, pada tiap sarapan dan makan malam yang dibuatkan oleh Ali untuknya, ada kandungan cinta di dalamnya. Ia tak pernah tahu, bila di setiap hari ketika kuliah telah usai, Ali selalu menyegerakan diri untuk kembali ke apartemen demi bisa lekas bertemu dengannya. Dan ia tak pernah tahu, tiap kali ia tertidur di meja usai mengerjakan tugasselalu adatangan lembut yang mengusap pipi dan membelai rambutnya.
Ali tak pernah tahu, terkadang di kala malam, ketika ia kelelahan, Natasha selalu masuk ke kamarnya untuk membenarkan selimut yang membungkusnya kemudian mencium keningnya. Ia tak pernah tahu bila tiap kali Natasha mengobati dan merawatnya ketika ia melukai dirinya sendiri maupun jatuh sakit karena kelelahan, ada kekhawatiran yang sungguh-sungguh dirasakan wanita itu. Ada kasih sayang luar biasa yang diberikan pada tiap sentuhan tangannya, bukan sekadar sentuhan tangan seorang calon dokter yang mesti merawat pasiennya.
Keduanya sama-sama tak pernah tahu, ketika gelar magister telah mereka raih, ada rasa takut yang sama-sama mereka rasai. Rasa takut untuk berpisah. Rasa takut bila nanti jadi merindu dan bilamanasulit untuk bertemu.
Mereka tak pernah tahu semua itu, karena masing-masing hanya membatin dalam hati. Tak pernah mengungkapkannya.
                                                            ***
By the way, saya tidak benar-benar baik-baik saja.” Ucap Natasha kepada Ali.
Kedua alis Ali terangkat. Tak mengerti maksud wanita itu. “Kenapa? Kamu...ada masalah dengan suami kamu?”
Natasha menggeleng. “Kamu penyebabnya.”
Ali terhenyak. Makin tak paham maksud sahabatnya.
“Kamu lupa kalau kamu punya satu kesalahan yang sangat fatal dan belum kamu tebus?”
“Maksud kamu?”
“Saya masih sakit hati karena kamu nggak datang ke pernikahan saya. Dan saya makin sakit hati karena kamu nggak ngundang saya ke pernikahan kamu.”
Ketegangan Ali berkurang. Ia tersenyum simpul. “Soal, itu. Kamu masih sakit hati?”
“Dendam kesumat malahan!”
Ali terkekeh. “Oke. Saya minta maaf banget karena nggak ngundang kamu ke pernikahan saya, Tapikan saya sudah bilang, kalau  saya nggak ngundang siapapun selain keluarga. Nggak ada satu pun teman saya yang saya undang. Dan untuk ketidakhadiran saya di pernikahan kamu, saya menyesal banget. Siapa sangka jika jadwal perform saya sama dengan hari pernikahan kamu. Perform seperti itu, kan, tentu sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bisa dari tiga hingga enam bulan sebelumnya.  Paling nggak, saya sudah kirim orang untuk datang bawa bunga, kartu ucapan dan kado.”
Ali tidak berbohong. Tak ada satu pun kawannya yang ia undang ke pernikahannya. Sebab, ia tak mau bila Natasha merasa dilupakan. Pada mulanya, ia hanya tak ingin mengundang wanita itu. Namun Ali tahu jika itu terlalu jahat dan tak adil untuk sahabatnya. Pada akhirnya, pesta pernikahan itu hanya dibuat untuk keluarga besar.
Namun Ali berbohong, jadwal penampilannya mestinya diadakan satu bulan usai pernikahan Natasha. Namun sehari setelah ia menerima undangan dari sahabatnya, Ali meminta pada agensinya untuk memajukan jadwal penampilannya, tepat pada hari pernikahan sahabat yang paling disayanginya.
Ali sangat paham jika kerinduan yang ia pendam kian berkarat dan membuatnya semakin sekarat. Namun ia juga paham, bila ia hadir pada pernikahan Natasha dan melihat sahabatnya bersanding dengan orang lain, kerinduan itu akan berubah menjadi rasa sakit yang juga membuatnya sekarat.
Kerinduan itu bagaikan sebuah penyakit yang kian hari terus menggerogoti kesehatannya. Fisiknya tampak baik-baik saja, tapi jiwanya begitu keropos. Namun ia juga tak mau, bila Natasha hadir di pernikahannya dan membuat hatinya  goyah.
Ali berada pada pilihan yang sulit: menahan kerinduan yang terus berkarat atau mengobati kerinduan itu tetapi ia akan tersakiti oleh rasa cemburu dan pahitnya menerima kenyataan tak dapat memiliki wanita sekaligus sahabat yang paling dikasihinya. Pada akhirnya ia memilih untuk menahan kerinduan itu, membiarkannya terus berakarat.
Natasha terdiam. Tersenyum kecut. Ia ingin mempercayai perkataan Ali. Namun, lima tahun terakhir, ia rasai bahwa sahabat yang dicintainya menghindarinya. Tanpa ia tahu mengapa.
“Kamu, harus menebus kesalahan kamu!” Ucap Natasha berusaha ketus. Memonyongkan kedua bibirnya.
Natasha ingin terlihat marah dan galak di hadapan Ali. Agar sahabatnya tak tahu, bahwa selama lima tahun terakhir ada kerinduan yang tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata dan Cuma lewat air mata. Agar Ali tak tahu, bahwa hari ini, beberapa saat lalu ketika ia bertemu dengan Ali untuk pertamakalinya setelah lima tahun berpisah, ada air mata kebahagiaan yang ia tahan.
Ali tersenyum geli melihat Natasha. Cara wanita itu mengekspresikan kekesalannya sama sekali tidak berubah.
 “Gimana caranya?”
Natasha memandang ke luar. Kini hujan makin lebat, sesekali angin berembus kencang dan terdengar suara guntur.
“Awalnya, saya pengin ajak kamu jalan-jalan ke manapun sampai malam. Sayangnya hujan. Kalau hujan nggak reda-reda, kamu harus temani saya ngobrol di sini sampai bosan. Yang penting hari ini kamu jadi milik saya.”
Kini giliran Ali yang terdiam. Ia tatap sahabatnya lekat-lekat. Ada hal yang mesti Natasha ketahui: hari ini, besok, lusa, minggu depan dan selamanya Ali akan dengan senang hati untuk menjadi milik Natasha. Natasha perlu tahu itu, namun Ali cuma bisa membertihatukannya dalam hati.
                                                            ***
Pukul delapan malam hujan baru reda. Sepasang sahabat itu baru saja meninggalkan cafe tempat mereka membicarakan banyak hal selama hampir lima jam. Keduanya berjalan beriringan meniti trotoar.
Natasha mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. Diatatpnya layar ponsel itu. Satu pesan singkat masukdari suaminya.
“Sudah dijemput suami kamu?” Ali bertanya hati-hati.
Natasha tersenyum dan mengangguk. Dimasukkannya kembali ponsel itu ke dalam saku. “Sepertinya kita harus berpisah di sini.” Ucapnya dengan berat hati. Ia tidak ingin berpisah malam ini. Tidak pula besok ataupun lusa. Natasha tidak pernah ingin berpisah dengan sahabatnya. “Thanks for today, lain kali ketemu lagi.”
Ali mengangguk berat. Lagi-lagi ia harus berpisah dengan sahabatnya. Lagi-lagi ia harus bersiap untuk menjadi perindu akut. Dan ia tak tahu apakah kali ini ia sanggup berdiri menahan kerinduan atau kerinduan itu yang sanggup membuatnya sekarat.
“Kamu, naik taksi atau dijemput?” Natasha bertanya. Mengulur waktu agar lebih lama bersama Ali.
“Sepertinya saya dijemput, kalau dia tidak lupa.” Ali terkekeh sendiri.
Natasha menatap sebuah mobil di seberang jalan. Seorang laki-laki berjas hitam keluar dari mobil itu, melambaikan tangan padanya.
Selama empat tahun terakhir ia selalu lega tiap kali laki-laki itu muncul di hadapannya buat menjemputnya. Namun kali ini, ia sama sekali tidak merasa lega.
“Saya sudah dijemput.”
Ali memutar badannya. Menatap laki-laki itu.
“Saya pulang dulu.”
Ali mengangguk. “Hati-hati.”
Natasha merentangkan kedua tangannya. “Peluk?” Pernyataannya lebih seperti sebuah tawaranbukan perintah juga bukan permintaan.
Ali tak bergegas memeluk sahabatnya. Ada kengiluan yang membuatnya ingin meringis.
“Al?”
Ali bergegas memeluk Natasha. Dipeluknya erat wanita dalam dekapannya. Ia tarik napas dalam-dalam. Menghirup parfum yang menempel pada pakaian wanita itu. Parfum yang ia tahu tak pernah diganti oleh wanita itu sejak pertama mereka berjumpa. Ia nikmati kehangatan pelukan itu, karena setelah ini ia tak akan merasakan kehangatan yang sama dan entah kapan ia akan kembali merasakan kehangatan itu.
Natasha memejamkan kedua matanya. Dirasainya pelukan itu penuh nikmat. Ia usap kepala Ali. Rambut itu masih sama lembutnya, tak berkurang sedikit pun kelembutannya. Ia hirup aroma sampo yang tak asing lagi buatnya, rupa-rupanya sahabatnya masih menggunakan merk yang sama dengan bertahun-tahun lalu.
Cukup lama keduanya berpelukan, hampir satu menit.
Perlahan, Ali melepaskan pelukannya secara perlahan. “Suami kamu menunggu.”
Natasha masih memeluk Ali. Sebisa mungkin menahan air matanya supaya tidak menetes hingga tenggorokannya terasa asin.
“Natasha.”
 Perlahan, dengan berat hati Natasha melepaskan pelukannya. Diusapnya kedua matanya. Ia tatap Ali lekat lalu tersenyum selebar mungkin, meyakinkan pada Ali dan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, atau setidaknya akan baik-baik saja. “Oke, saya pulang dulu.”
Natasha segera menyeberangi jalan raya menghampiri suaminya.
Ali menatap punggung Natasha, begitu wanita itu tiba di seberang jalanbergegas ia beranjak dari tempatnya.
Natasha tiba di hadapan suaminyaia tersenyum kepada lelaki yang telah empat tahun menikah dengannyaMembiarkan lelaki itu mencium keningnya. Namun tak lama kemudiania  kembalimemutar badan, ditatapnya sahabat yang paling disayanginya. Kini, Ali telah beranjak dari tempat mereka semulabelum jauh dari jangkauan matanya.
“Al!”
Ali tak mendengar teriakan itu.
“Alika!”
Ali menghentikan langkahnya. Menengok ke arah sahabatnya.
“Lain kali, bisa ketemu lagi, kan?”
Ali tak segera menjawab. Jika ada pertemuan selanjutnya, bukankah akan ada kerinduan lagi? Batinnya bertanya. Ia mengangguk. “Mudah-mudahan.” Serunya.
 Alika!” Natasha berteriak lagi. Belum ingin untuk berpisah.
Bersamaan dengan itu rombongan kendaraan melaju di jalan raya, menghalangi pandangan masing-masing. Cukup lama, hampir dua menit.
Sebuah bus berlalu dari hadapan keduanya. Kini mereka dapat saling berpandangan.
 Natasha dapati kini telah berdiri seorang laki-laki di samping Ali. Ia terdiam. Ditatapnya sepasang suami istri di seberang sana. Ia kepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Tenggorokannya terasa kian asin. Tersenyum selebar mungkin.
“Hati-hati!” Serunya.
Ali terdiam. Ditatapnya Natasha yang  berada dalam rangkulan laki-laki berjas hitam tadiMenelan ludahmenahan ngilu yang sungguhan membuatnya ingin meringis. Kemudian ia gandeng tangan suaminya, berharap dengan begitu mendapatkan kekuatan untuk melihat pemandangan di hadapannya. Ia mengangguk dan balas tersenyum lebar.
“Kamu juga.” Ucap Ali kemudian.
 Dua pasang suami dan istri itu lantas segera berlalu, menuju rumah mereka masing-masing.
Ali tak pernah tahu, beberapa detik sebelum Natasha memintanya buat berhati-hati, ada kata cinta yang diucapkan oleh wanita itu dalam hati. Natasha tak pernah tahu, bahwa sesaat sebelum Ali mengangguk, ada pengakuan cinta yang diucapkan oleh Ali walau hanya dalam hati.
Namun keduanya sama-sama tahubahwa cinta yang mereka rasai tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Agar tak perlu ada yang tersakiti. Agar tak ada jarak yang tercipta. Cukup dengan membatinsaja.

                                                            Selesai di Yogyakarta, 2 Desember 2016
                                                            Pukul 07:26 WIB