Latest Posts

PELUK cerpen oleh ImaRosyi Dari sekian banyak sahabat perempuan yang Mina miliki, adalah Momo yang paling ia rindukan. Dari sekian ...

PELUK
cerpen oleh ImaRosyi
Dari sekian banyak sahabat perempuan yang Mina miliki, adalah Momo yang paling ia rindukan.
Dari sekian banyak sahabat perempuan yang memeluknya, adalah pelukan Momo yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
Dari sekian banyak sahabat perempuan yang menggunakan parfum, hanya aroma parfum milik Momo yang membuatnya merasa tenang.
Dari sekian banyak sahabat perempuan yang menatapnya, hanya tatapan Momo yang membuatnya merasakan keteduhan.
Ia selalu suka ketika Momo datang mendekatinya. Memeluknya dari belakang dan mengenakan pundaknya sebagai tumpuan dagu.
Mina selalu suka ketika Momo duduk di sebelahnya lalu Momo akan menyandarkan kepalanya di pundak Mina.
Mina selalu bisa merasakan, setiap kali ia berbicara, Momo akan memerhatikannya, menatapnya lekat, meskipun Mina tak balik menatap Momo. Dan ia selalu suka dengan tatapan yang Momo berikan.
Delapan tahun kala itu usia persahabatan mereka. Momo mulai jarang melakukan semua itu.
Pada mulanya Mina berpikir, tentu saja Momo jarang melakukan semua itu karena toh mereka juga jarang bertemu semenjak mereka lulus kuliah, sibuk dengan karir masing-masing meskipun masih tinggal di bawah atap yang sama.
Namun ia mulai sadar jika Momo menjauhinya. Sejak Momo tampak selalu terburu-buru untuk berangkat kerja meski ia masuk dua jam kemudian sehingga ia akan selalu melewatkan sarapan bersama Mina.
Mina sadar betul jika Momo menjauhinya,  sejak Momo selalu pulang kerja lewat dari pukul sembilan malam dan melewatkan makan malam bersama Mina.
Dan tiap hari Minggu tiba Momo selalu pergi sebelum Mina terbangun dan pulang ketika Mina sudah terlelap.
Mina ingin bertanya tiap kali ia punya kesempatan bertemu dengan Momo barang satu menit saja “Apa saya menyinggung kamu? Ada perbuatan saya yang bikin kamu marah?”
Namun tiap kali ia ingin mengucapkannya,  pertanyaan itu berhenti di tenggorokan, tercampur dengan air mata yang ia tahan.
Mina ingin balas memeluk Momo. Meletakkan dagunya di pundak Momo. Duduk di samping Momo dan menyandarkan kepalanya.  Sebagaimana yang pernah ia lakukan ketia usia persahabatan mereka belum mencapai 8 tahun.
Namun Momo selalu menghindarinya, tanpa pernah ia tahu mengapa.
Pada usia persahabatan mereka yang ke-11 tahun. Mina menikah dengan kekasihnya yang sudah ia pacari selama tiga setengah tahun.
Di hari pernikahannya, semua sahabatnya tersenyum lebar dan memeluknya erat. Namun tidak dengan Momo. Perempuan itu,meski tersenyum lebar dan tampak bahagia tetapi tidak memeluknya.
Momo hanya meletakkan dagunya di pundak Mina sambil menepuk punggungnya. Ada jarak antara tubuh keduanya. Mina sangat menyadari itu.
Itu bukan pelukan yang biasa Momo berikan. Bahkan itu bukan pelukan.
Hari itu, dari sekian banyak sahabat perempuan yang hadir di pernikahannya,  cuma Momo yang tidak memeluknya. 
Empat tahun setelah Mina menikah. Giliran Momo yang melepas masa lajangnya.
Kala itu, Mina merasakan kebahagiaan yang Momo rasakan. Ia memberikan senyum dari hati yang terdalam untuk sahabatnya. Namun ketika Mina hendak memeluk Momo, perempuan itu buru-buru memegang pundaknya, menepuk-nepuk lembut, tersenyum lebar dan berkata “Terimakasih sudah datang.”
Hanya itu.
Tidak ada pelukan yang terjadi di antara keduanya pada hari pernikahan Momo, sebagaimana tidak ada pelukan di hari pernikahan Mina.
Kejadian itu terulang kembali. Sehari yang lalu. Ketika Mina bertemu dengan sahabat-sahabat masa SMA-nya termasuk Momo.
Adalah Momo satu-satunya orang yang tidak memberikannya pelukan ketika pertamakali bertemu setelah bertahun-tahun sama sekali tidak berjumpa.
Adalah Momo satu-satunya orang yang tidak memeluknya, ketika sekumpulan sahabat itu mengakhiri pertemuan mereka.
***
Pesawatnya take off jam 10.
Tapi transit dulu di ..... 2 jam.
Mau cari yang langsung nggak ada.

Momo menatap layar ponselnya. Membaca ulang pesan dari Mina yang ada di grup kelas SMA-nya.
Jam 10.
Momo mengulang pesan itu dalam hati lalu melirik jam di dinding kamarnya. Pukul 8:45.
Momo meletakkan ponselnya di atas meja. Memutar-mutarnya. Kakinya bergerak-gerak tak beraturan. Gugup. Panik. Bimbang. Semua menjadi satu.
Tidak perlu menyusul. Batinnya.
Ia melirik lagi jam di dinding. Satu menit lewat.
Tapi, saya nggak tahu bakal bertemu dia lagi kapan. Gimana kalau ternyata kemarin jadi pertemuan terakhir?
Momo cepat-cepat menggeleng.
Masih ada kesempatan lain. Meski harus menunggu hingga lima atau sepuluh tahun lagi. Lanjutnya kepada dirinya sendiri.
Momo mengejapkan kedua matanya kuat. Menarik napas dalam-dalam.
Ia merindukan perempuan itu yang pundaknya selalu terasa nyaman ketika ia gunakan untuk menyandarkan kepala.
Ia rindu perempuan itu yang pinggangya terasa begitu ramping tiap kali ia memeluknya dari belakang.
Ia rindu perempuan itu yang akan selalu menepuk kepalanya lembut atau mengusap pipinya dengan telapak tangan yang terasa begitu halus tiap kali ia meletakkan dagu atau menyandarkan kepala di pundaknya.
Ia rindu perempuan itu yang selalu bisa tertawa lepas tiap kali berbicara dengannya.
Tidak! Saya tidak perlu menyusul dia. Saya tidak perlu memeluk dia.
Ia rindu. Namun ia tidak mau lagi melakukan semua itu.
Ia rindu. Namun ia tidak bisa melakukan semua itu lagi.
Ia rindu. Namun ia tidak bisa membiarkan dirinya melihat perempuan itu lagi.
Tidak boleh. Karena jika Momo kembali memeluknya, atau menggunakan pundaknya sebagai sandaran kepala, perasaan yang bersemayam di hatinya selama 20 tahun ini tidak akan pernah pergi.
Sembilan tahun lamanya Momo berjuang mati-matian untuk membunuh perasaan yang tumbuh di benaknya. Namun Momo sadar betul bahwa perasaan tersebut tidak pernah mati barang sehari saja.
Ia sakit ketika harus menjauhi perempuan itu. Dalam batin ia berdarah-darah, tiap kali melihat kekecewaan Mina tiap kali ia menghindari sarapan dan makan malam bersama. Ia menjerit perih ketika di hari pernikahan Mina, ia tidak bisa memeluk perempuan itu. Dan ia hampir mati berdiri ketika ia tidak mengizinkan Mina untuk memeluknya di hari pernikahannya.
Ia sudah sejauh ini. Sembilan tahun menghindari sahabat karib yang membuatnya jatuh cinta. Momo tidak mau perjuangannya itu sia-sia.
Jam dinding di kamarnya berdenting sembilan kali membuat Momo terperanjat. Spontan ia buka kedua matanya.
Pukul sepuluh Mina akan kembali ke Paris Sementara untuk dapat mencapai bandara Momo harus menempuh waktu satu jam.
Sekali ini saja.
Batin lain dari Momo berucap.
Bagaimana kalau setelah ini saya tidak bisa bertemu dengan dia sama sekali?
Ya, kali ini saja.
Tidak apa-apa.
Momo bergegas berdiri dari duduknya. Menyambar kunci mobil pada gantungan di dinding dalam sekali raih. Dengan buru-buru mencari suaminya. Ia dapati lelaki yang telah ia nikahi selama dua tahun itu sedang sibuk di dapur.
“Hai, saya ada keperluan sebentar. Mobil saya pakai, ya?” Ia melambai-lambaikan kunci mobil.
“Mau ke mana, sih? Kayak buru-buru banget.”
“Ada keperluan sebentar. Jam 12 saya pulang, kok.”
Suaminya mengangguk. “Oke. Jangan makan siang di luar, lho. Saya sedang masak soalnya.”
Momo tersenyum lebar. “Beres.”
Ia bergegas pergi tanpa mencium atau memeluk suaminya.
****

Ia tidak tahu di terminal mana Mina menuju. Ia tidak tahu pesawat apa yang kiranya bakal Mina gunakan.
Ia hanya mengira-ngira, mencoba mencari tiket pesawat hari ini melalui situs pemesanan tiket online. Ia cari tiket pesawat dengan tujuan Paris berangkat pukul 10 dan bakal transit di... selama dua jam.
Sialnya ada tiga maskapai berbeda dengan terminal yang berbeda yang memiliki detail sama persis.
Momo melirik jam tangannya. Pukul 9:35. Dua puluh menit lagi Mina akan pergi. Sementara itu bandara ini terlalu luas untuk diputari hanya dalam waktu 20 menit.
Ia berlari-lari dan kadang berjalan cepat. Memerikasa seluruh ruang tunggu dan memerhatikan orang-orang yang antre di bagian pemeriksaan terminal. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Berputar-putar seperti orang menari.
Ia tidak tahu baju apa yang Mina kenakan hari ini. Namun dari ratusan orang, tidak ia dapati satu sosok yang mirip dengan Mina atau barangkali ia melewatkannya,mulai lupa akan sosoknya karena sembilan tahun menjauhinya.
Pukul 9:45 ia tiba pada terminal terakhir. Lima belas menit waktu yang tersisa dan ia tidak yakin jika Mina masih berada di ruang tunggu. Ia tahu betul bahwa Mina adalah orang yang tepat waktu. Pada setiap pertemuan dan janji yang dibuat, Mina akan hadir 15 menit sebelum waktu yang telah ditentukan. Barangkali Mina sekarang sudah berada di pesawat.
Terengah-engah dan merasai jantungnya bakal lompat dan menembus dada kirinya, dengan lunglai Momo  menuju pintu pemeriksaan setelah tidak mendapati sosok Mina di ruang tunggu.
Sambil berkacak pinggang dan mengatur napasnya, diperhatikannya orang-orang yang antre menunjukkan tiket pesawat.
“Momo?”
Kesadarannya hampir hilang. Barangkali terlalu banyak darah yang menuju ke otaknya hingga rasanya ia hampir mampus. Ia tidak tahu siapa yang memanggilnya, yang ia tahu saat ini ia sangat lelah dan ingin merebahkan tubuhnya di lantai bandara yang mengkilat saat ini juga. Merasai lantai bandara yang ia yakin bakal terasa dingin dan ampuh untuk mengeringkan punggungnya yang dipenuhi oleh keringat.
Namun spontan saja ia memutar badannya, menatap ke arah sumber suara.
Dengan wajah yang menampakkan kesakitan karena masih ngos-ngosan, Momo mencoba terseyum manis meski akhirnya yang ia berikan adalah senyum getir dan meringis macam ibu hamil yang sedang melahirkan bayi dengan posisi sungsang.
“Hai.” Momo mencoba menyapa Mina ramah.
Mina tersenyum kikuk. “Kamu, habis ngantar siapa?”
Momo menggeleng. “Saya nggak habis ngantar siapa-siapa. Tapi sedang mengantar teman.” Ada jeda satu detik sebelum ia melanjutkan ucapannya, “kamu.”
Kedua alis Mina terangkat. Ia diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum antara malu bercampur geli.
“Kok tahu kalau saya di terminal ini?”
“Saya hapal bau parfummu.”
Mina tersenyum lebar. “Masa ia bisa kecium sejauh itu?”
Momo mengangguk. “Penciuman saya, kan, tajam.”
Mina terdiam. Mengalihkan pandangannya dari Momo dan tersenyum geli.
“Saya tahu kamu mau bilang kalau saya mirip anjing pelacak.”
Mina tersenyum lebar. “Saya nggak bilang kayak gitu. Kamu yang bilang.”
“Ya kamu nggak bilang, tapi mikir gitu, kan?”
Mina terkekeh. “No, saya nggak mikir gitu.”
“Halah, taik! Asal kamu tahu, saya terlalu imut buat jadi anjing pelacak, lebih cocok jadi puddle.”
Mina menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, tertawa lepas. Wajahnya yang putih pucat seketika memerah dari ujung dagu hingga ujung kening.
Momo menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.
Tawa ini. Sembilan tahun ia tidak pernah melihat tawa lepas ini. Kalaupun ia sempat melihatnya kemarin, Momo sangat tahu bahwa Mina tertawa bukan karenanya. Dan tawa perempuan itu tidak serenyah saat keduanya berbincang.
Momo tersenyum lebar sambil mengela napas.
Dari pengeras suara terdengar seorang wanita memberitahukan bahwa pesawat tujuan Paris akan berangkat 10 menit lagi. Obrolan itu telah berlalu lima menit.
“Itu pesawat kamu, kan?”
Mina mengangguk.
“Kamu bisa lari,kan?”
Kedua alis Mina berkerut.
“Saya minta waktu satu menit. Buat kasih kamu sesuatu.”
“Apa?”
Momo menarik napas panjang. “Sesuatu yang kemarin lupa saya berikan.” Ucapnya sambil mendekati Mina.
Dalam sekejap mata, ia memeluk Mina. Lembut awalnya, tapi seiring waktu yang berjalan, pelukan itu makin erat.
Momo memejamkan kedua matanya. Ia rindu bau parfum ini—teh hijau. Ia rindu meletakkan dagunya di atas pundak yang tampaknya jadi kurus jika dibandingkan sembilan tahun lalu. Ia rindu pinggang yang ramping, yang ia yakin kali ini jadi lebih ramping dari terakhir kali ia memeluknya.
Mina memeluk punggung Momo erat-erat. Punggung itu terasa lebih berisi dari terakhir ia memeluknya. Barangkali menikah dengan chef membuat Momo bisa menikmati banyak makanan kesukaannya—dan Momo menyukai semua makanan.
“Maaf.” Ucap Momo lirih tapi telinga Mina tetap bisa meangkap suara lirih di tengah kermaian bandara.
Maaf bukan hanya untuk kemarin. Tetapi untuk sembilan tahun terakhir. Maaf untuk tidak pernah memeluk kamu.
Lanjutnya dalam hati.
Maaf.
Momo tidak perlu menjelaskan untuk apa ia meminta maaf dan Mina tahu betul mengapa perempuan itu meminta maaf.
Hanya kata maaf yang keluar dari mulut Momo, tidak ada embel-embel apapun,tetapi satu kata itu sanggup membuat Mina menangis seketika.
Sembilan tahun lamanya ia menunggu pelukan ini. Sembilan tahun lamanya ia menunggu kesempatan untuk dapat menghirup parfum beraroma lemon yang kuat dengan sedikit aroma apel yang lembut. Sembilan tahun lamanya ia menunggu satu orang untuk meletakkan dagu di atas pundaknya dan memegang pinggangnya yang kian mengecil.
Butuh sembilan tahun bagi Mina untuk kembali mendapatkan semua itu.
Mina mengangguk. “It’s ok.” balasnya.
Tidak! Ia tidak baik-baik saja. Ia ingin bertanya mengapa selama ini Momo berhenti melakukan semua itu. Ia ingin bertanya mengapa Momo menjauhinya. Ia ingin memukul Momo sekuat tenaga dan berteriak “Saya sakit! Sangat sakit! Dan kamu yang membuat saya merasakan semua itu!”
Namun seperti yang telah berlalu, kalimat itu nyangkut di tenggorokannya, kali ini tidak bercampur dengan air mata yang ditahan, sebab air mata yang telah ia tahan selama sembilan tahun lamanya akhirnya menetes juga.
Suara perempuan terdengar lagi dari pengeras suara. Pesawat tujuan Paris sedang take off. Namun Mina tidak segera melepaskan pelukannya dari Momo. Pelukan itu malah kian menguat.
Ia tidak peduli jika tidak jadi pulang ke Paris. Ia tidak peduli jika tiket pesawat harga dua puluh juta miliknya hangus. Ia sama sekali tidak peduli dengan semua itu.
Masih ada pesawat lain di lain hari. Masih ada uang ratusan juta di rekeningnya. Ia bisa membeli tiket pesawat lagi dengan harga berapapun yang ia mau.
Namun pelukan ini tidak dapat ia beli di toko manapun. Tidak dapat ia booking di situs online manapun. Tidak dapat ia miliki dengan harga berapapun.
Pelukan ini jauh lebih berharga dari apapun, termasuk suami dan anaknya yang telah menunggu di Paris setelah dua hari ia tinggalkan.
Dulu, sekarang, bahkan puluhan tahu lagi, tidak ada yang lebih berharga baginya selain pelukan yang telah sembilan tahun tidak ia dapatkan.
Bahkan jika setelah ini ia masih bisa mendapatkan pelukan ini sebanyak yang ia mau, pelukan ini tetap menjadi hal paling berharga buatnya. Karena cuma satu orang yang mempunyai pelukan ini, tidak ada orang lain yang memilikinya, sekalipun suami yang paling dicintainya.

Selesai di Yogyakarta, 24 April 2018  pukul 12:58











Membatin cerpen oleh: ImaRosyi Di cafe ini keduanya duduk berhadapan di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke jalan ra...





Membatin
cerpen oleh: ImaRosyi
Di cafe ini keduanya duduk berhadapan di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke jalan raya, dipisahkan oleh sebuah meja. Mereka saling tatap dan tersenyum setelah beberapa saat lalu saling berpelukan erat. Meyakinkan diri masing-masing bahwa pertemuan ini nyata adanya, bukan sekadar mimpi. Bahwa sosok di hadapan masing-masing sungguhan hadir, bukan sekadar ilusi yang diciptakan oleh otak dan benak masing-masing karena barangkali keduanya sudah sama-sama gila dan lelah menahan kerinduan selama lima tahun tanpa pernah bertemu sekali pun.
“Apa-apaan, sih ini? Sampai kapan kita mau tatap-tatapan seperti ini?” Ali bertanya sembari menahan semburan tawanya.
“Kamu sendiri kenapa sejak tadi cuma senyum sambil ngelihatin saya?”
“Oke, cukup! Kamu apa kabar?”
Wanita di hadapannya tampak sehat dan baik-baik saja. Ali tak benar-benar tahu barangkali ada kesedihan dan rasa sakit dalam hati sahabat lamanya. Namun senyum wanita itu masih sama seperti dulu, terasa begitu manis dan dipenuhi kebahagiaan. Enam tahun bersamanya, cukup bagi Ali untuk mengetahui suasana hati sahabatnya tanpa perlu wanita itu memberitahukannya pada Ali. Sebab Ali bisa bedakan berbagai rasa yang dirasai sahabatnya cukup dari tatapan mata dan senyumannya. Dan kali ini Ali cukup yakin, bahwa sahabatnya baik-baik saja. Kalau bukan untuk mengakrabkan kembali kerenggangan selama lima tahun, Ali enggan untuk berbasa-basi.
Natasha diam barang lima detik. Mengulang pertanyaan Ali dalam hati buat dirinya sendiri. Lima tahun terakhir hidupnya sangat berbahagia. Hanya kerinduan kepada Ali yang membuat kebahagiaan itu kurang sempurna. Namun kini di hadapannya telah hadir sahabat yang sangat dirinduinya. Jadi, bukankah kini kebahagiaan itu menjadi sempurna? Maka ia baik-baik saja. “Seperti yang kamu lihat.” Jawabnya sambil tersenyum lebih lebar lagi, “kamu sendiri?”
Ali menelan ludah. Ada kerinduan yang telah lama ia pendam. Kerinduan kepada sahabat lamanya selama lima tahun. Selama itu, tak satu orang pun mengetahui jika ia hidup sebagai seorang perindu akut. Sahabat yang sangat dirindukannya pun tak mengetahui hal itu. Sebab ia tak pernah mengatakan kerinduan itu pada siapapun, karena ia terlalu takut unuk mengatakan rindu. Bahkan hanya merasai kerinduan ini pun telah membuatnya ketakutan. Maka selama lima tahun ia hanya bisa memendam kerinduan itu tanpa mengucapkannya pada siapapun termasuk orang yang dirinduinya. Menyimpan kerinduan itu rapat-rapat tanpa pernah ia rawat hingga berkarat dan membuatnya nyaris sekarat.
Ali tak pernah merawat kerinduan itu sebab ia tak tahu cara merawat kerinduan. Bahkan ia tak tahu bila kerinduan bisa dirawat, sepengetahuannya rindu tak bisa dirawat tetapi memiliki obat untuk membabatnya. Dan kini telah ia dapatkan obat itu: berjumpa dengan orang yang amat dirindukannya.
Namun Ali tak yakin bila pertemuan ini adalah obat yang tepat buat membabat kerinduan yang telah lama berkarat itu. Setelah ini, mereka akan kembali berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Setelah ini, ia akan kembali merindukan sahabat lamanya. Lalu buat apa pertemuan ini terjadi bila nanti kembali merindu? Tak bisakah rindu benar-benar dibabat tuntas? Pertemuan ini hanya seperti obat bius yang diberikan saat cabut gigi, tak ada rasa nyeri ketika dokter mencabut giginya, tetapi satu jam kemudian ketika giginya telah ompong, rasa sakit itu baru dirasainya. Sayangnya, setelah cabut gigi dokter akan memberikannya obat buat menghilangkan rasa nyeri yang tak lagi bisa ditangani oleh obat bius, sedangkan ia tak punya obat untuk menghilangkan kerinduan setelah pertemuan ini berakhir.
“Seperti yang kamu lihat juga. Saya baik-baik saja.” Ali tersenyum selebar mungkin. Setidaknya saat ini ia baik-baik saja. Soal nanti ia kembali sekarat karena menahan kerinduan adalah persoalan lain, toh wanita itu menanyakan kabarnya kali ini bukan nanti setelah pertemuan ini berakhir.
Lagi, keduanya terdiam. Berpisah selama lima tahun membuat keduanya benar-benar canggung. Bukankah seharusnya kecanggungan itu tak hadir, bila keduanya sama-sama mengklaim bahwa sosok di hadapan masing-masing adalah sahabat sejati yang sangat karib? Mestinya tadi mereka saling berpelukan erat, menjerit kegirangan dan saling memberi umpatan selayaknya sahabat karib.
Natasha menatap ke luar jendela. Di luar sana hujan mulai turun. Para pejalan kaki berlarian mencari tempat berteduh. Para pengendara sepeda motor menghentikan laju kendaraan mereka sejenak untuk mengenakan jas hujan. Mereka yang berada di dalam mobil maupun bus cukup duduk tenang pada kursi masing-masing sambil menatap jalanan. Dan udara kini perlahan berubah menjadi dingin.
“Jadi, gimana pekerjaan kamu?” Ali kembali bertanya, berusaha menghilangkan kecanggungan di antara keduanya yang terasa begitu menggelikan dan mencekik. “Sudah berapa pasien yang kamu suntik mati?” Lanjutnya sebelum Natasha menjawab pertanyaannya.
Natasha tersenyum lebar hingga gigi-gigi serinya yang berjajar rapi terlihat. “Syukur mereka semua masih hidup sampai saat ini. Kamu sendiri bagaimana? Fans kamu, para penggemarmu, sudah berapa banyak yang terpaksa dilarikan ke dokter telinga? Atau barangkali mesti dilarikan ke UGD gara-gara mendadak epilepsi.”
“Oh, setelah mendengarkan musik-musik saya, awalnya mereka memang terserang epilepsi. Tapi setelah itu, mereka semua justru bisa mendengar batin seseorang, jadi nggak perlu dilarikan ke dokter telinga! Luar biasa, kan?”
“Wah! Luar biasa banget!”
“Dasar gila!”
“Kamu yang gila!”
Keduanya terbahak bersama hingga perut mereka terasa sakit, wajah memerah dan air mata berlinangan. Satu menit kemudian kecanggungan itu hilang sama sekali, segalanya mencair seperti saat mereka belum berpisah.
***
Keduanya adalah kawan satu perguruan tinggi. Kala itu Ali masih menjadi calon pianis, sedangkan Natasha masih menjadi calon dokter. Keduanya saling kenal ketika sama-sama bergabung dengan tim paduan suara kampus mereka.
Natasha tak menampik, sejak bertemu pertamakali dengan sahabatnya, ia segera mengagumi sosok itu. Dan ia tahu betul makin hari ia tak hanya mengagumi sahabatnya, tapi sungguh-sungguh memujanya, menyayanginya dan mecintainya. Natasha telah jatuh cinta, kepada sahabatnya sendiri.
Bagi Ali, Natasha hanyalah kawan satu unit kegiatan mahasiswa yang sama dengannya, tidak lebih dari itu. Setahun berlalu dan Ali tersadar bahwa wanita yang sekadar kawan satu unit kegiatan mahasiswa itu telah membuatnya merasai rasa yang tak pernah dirasai sebelumnya: cemburu. Ali sadar bahwa ia telah jatuh cinta. Natasha telah mencuri hatinya.
Empat tahun keduanya saling mengagumi dan memuja dalam hati. Tak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan masing-masing. Sebab, keduanya sama-sama takut untuk mengungkapkannya. Bukan sekadar takut mengetahui jawaban yang bakal menyakitkan perasaan. Namun mereka sama-sama takut bila seusai menyatakan perasaan masing-masing, akan ada jarak yang tercipta di antara keduanya. Maka bagi mereka, lebih baik tak pernah menyatakannya sama seakali tetapi dapat selalu bertemu dan bersama.
Usai meraih gelar sarjana, keduanya melanjutkan perjuangan meraih gelar magister. Tanpa sengaja keduanya mendapat beasiswa ke negara yang sama. Kota yang sama. Hanya perguruan tinggi yang berbeda. Diputuskanlah oleh keduanya untuk menyewa apartemen minimalis kelas ekonomi untuk tinggal bersama.
Dua tahun mereka hidup di bawah atap yang sama. Selama itu, mereka tak sekadar berjuang untuk meraih gelar magister, namun juga berjuang untuk tetap mengunci mulut mereka rapat-rapat dan mencekik leher masing-masing agar tiap kali kata cinta itu hendak diucap tenggorokan mereka jadi mampat sehingga kata cinta tak pernah diucap. Cuma lewat tindakan dan perbuatan mereka bisa ungkapkan rasa cinta itu.
Natasha tak pernah tahu, bila selama dua tahun itu, pada tiap sarapan dan makan malam yang dibuatkan oleh Ali untuknya, ada kandungan cinta di dalamnya. Ia tak pernah tahu, bila di setiap hari ketika kuliah telah usai, Ali selalu menyegerakan diri untuk kembali ke apartemen demi bisa lekas bertemu dengannya. Dan ia tak pernah tahu, tiap kali ia tertidur di meja usai mengerjakan tugas, selalu adatangan lembut yang mengusap pipi dan membelai rambutnya.
Ali tak pernah tahu, terkadang di kala malam, ketika ia kelelahan, Natasha selalu masuk ke kamarnya untuk membenarkan selimut yang membungkusnya kemudian mencium keningnya. Ia tak pernah tahu bila tiap kali Natasha mengobati dan merawatnya ketika ia melukai dirinya sendiri maupun jatuh sakit karena kelelahan, ada kekhawatiran yang sungguh-sungguh dirasakan wanita itu. Ada kasih sayang luar biasa yang diberikan pada tiap sentuhan tangannya, bukan sekadar sentuhan tangan seorang calon dokter yang mesti merawat pasiennya.
Keduanya sama-sama tak pernah tahu, ketika gelar magister telah mereka raih, ada rasa takut yang sama-sama mereka rasai. Rasa takut untuk berpisah. Rasa takut bila nanti jadi merindu dan bilamanasulit untuk bertemu.
Mereka tak pernah tahu semua itu, karena masing-masing hanya membatin dalam hati. Tak pernah mengungkapkannya.
***
“By the way, saya tidak benar-benar baik-baik saja.” Ucap Natasha kepada Ali.
Kedua alis Ali terangkat. Tak mengerti maksud wanita itu. “Kenapa? Kamu...ada masalah dengan suami kamu?”
Natasha menggeleng. “Kamu penyebabnya.”
Ali terhenyak. Makin tak paham maksud sahabatnya.
“Kamu lupa kalau kamu punya satu kesalahan yang sangat fatal dan belum kamu tebus?”
“Maksud kamu?”
“Saya masih sakit hati karena kamu nggak datang ke pernikahan saya. Dan saya makin sakit hati karena kamu nggak ngundang saya ke pernikahan kamu.”
Ketegangan Ali berkurang. Ia tersenyum simpul. “Soal, itu. Kamu masih sakit hati?”
“Dendam kesumat malahan!”
Ali terkekeh. “Oke. Saya minta maaf banget karena nggak ngundang kamu ke pernikahan saya, Tapi, kan, saya sudah bilang, kalau saya nggak ngundang siapapun selain keluarga. Nggak ada satu pun teman saya yang saya undang. Dan untuk ketidakhadiran saya di pernikahan kamu, saya menyesal banget. Siapa
sangka jika jadwal perform saya sama dengan hari pernikahan kamu. Perform seperti itu, kan, tentu sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bisa dari tiga hingga enam bulan sebelumnya. Paling nggak, saya sudah kirim orang untuk datang bawa bunga, kartu ucapan dan kado.”
Ali tidak berbohong. Tak ada satu pun kawannya yang ia undang ke pernikahannya. Sebab, ia tak mau bila Natasha merasa dilupakan. Pada mulanya, ia hanya tak ingin mengundang wanita itu. Namun Ali tahu jika itu terlalu jahat dan tak adil untuk sahabatnya. Pada akhirnya, pesta pernikahan itu hanya dibuat untuk keluarga besar.
Namun Ali berbohong, jadwal penampilannya mestinya diadakan satu bulan usai pernikahan Natasha. Namun sehari setelah ia menerima undangan dari sahabatnya, Ali meminta pada agensinya untuk memajukan jadwal penampilannya, tepat pada hari pernikahan sahabat yang paling disayanginya.
Ali sangat paham jika kerinduan yang ia pendam kian berkarat dan membuatnya semakin sekarat. Namun ia juga paham, bila ia hadir pada pernikahan Natasha dan melihat sahabatnya bersanding dengan orang lain, kerinduan itu akan berubah menjadi rasa sakit yang juga membuatnya sekarat.
Kerinduan itu bagaikan sebuah penyakit yang kian hari terus menggerogoti kesehatannya. Fisiknya tampak baik-baik saja, tapi jiwanya begitu keropos. Namun ia juga tak mau, bila Natasha hadir di pernikahannya dan membuat hatinya goyah.
Ali berada pada pilihan yang sulit: menahan kerinduan yang terus berkarat atau mengobati kerinduan itu tetapi ia akan tersakiti oleh rasa cemburu dan pahitnya menerima kenyataan tak dapat memiliki wanita sekaligus sahabat yang paling dikasihinya. Pada akhirnya ia memilih untuk menahan kerinduan itu, membiarkannya terus berakarat.
Natasha terdiam. Tersenyum kecut. Ia ingin mempercayai perkataan Ali. Namun, lima tahun terakhir, ia rasai bahwa sahabat yang dicintainya menghindarinya. Tanpa ia tahu mengapa.
“Kamu, harus menebus kesalahan kamu!” Ucap Natasha berusaha ketus. Memonyongkan kedua bibirnya.
Natasha ingin terlihat marah dan galak di hadapan Ali. Agar sahabatnya tak tahu, bahwa selama lima tahun terakhir ada kerinduan yang tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata dan Cuma lewat air mata. Agar Ali tak tahu, bahwa hari ini, beberapa saat lalu ketika ia bertemu dengan Ali untuk pertamakalinya setelah lima tahun berpisah, ada air mata kebahagiaan yang ia tahan.
Ali tersenyum geli melihat Natasha. Cara wanita itu mengekspresikan kekesalannya sama sekali tidak berubah.
“Gimana caranya?”
Natasha memandang ke luar. Kini hujan makin lebat, sesekali angin berembus kencang dan terdengar suara guntur.
“Awalnya, saya pengin ajak kamu jalan-jalan ke manapun sampai malam. Sayangnya hujan. Kalau hujan nggak reda-reda, kamu harus temani saya ngobrol di sini sampai bosan. Yang penting hari ini kamu jadi milik saya.”
Kini giliran Ali yang terdiam. Ia tatap sahabatnya lekat-lekat. Ada hal yang mesti Natasha ketahui: hari ini, besok, lusa, minggu depan dan selamanya Ali akan dengan senang hati untuk menjadi milik Natasha. Natasha perlu tahu itu, namun Ali cuma bisa membertihatukannya dalam hati.
***
Pukul delapan malam hujan baru reda. Sepasang sahabat itu baru saja meninggalkan cafe tempat mereka membicarakan banyak hal selama hampir lima jam. Keduanya berjalan beriringan meniti trotoar.
Natasha mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. Diatatpnya layar ponsel itu. Satu pesan singkat masuk, dari suaminya.
“Sudah dijemput suami kamu?” Ali bertanya hati-hati.
Natasha tersenyum dan mengangguk. Dimasukkannya kembali ponsel itu ke dalam saku. “Sepertinya kita harus berpisah di sini.” Ucapnya dengan berat hati. Ia tidak ingin berpisah malam ini. Tidak pula besok ataupun lusa. Natasha tidak pernah ingin berpisah dengan sahabatnya. “Thanks for today, lain kali ketemu lagi.”
Ali mengangguk berat. Lagi-lagi ia harus berpisah dengan sahabatnya. Lagi-lagi ia harus bersiap untuk menjadi perindu akut. Dan ia tak tahu apakah kali ini ia sanggup berdiri menahan kerinduan atau kerinduan itu yang sanggup membuatnya sekarat.
“Kamu, naik taksi atau dijemput?” Natasha bertanya. Mengulur waktu agar lebih lama bersama Ali.
“Sepertinya saya dijemput, kalau dia tidak lupa.” Ali terkekeh sendiri.
Natasha menatap sebuah mobil di seberang jalan. Seorang laki-laki berjas hitam keluar dari mobil itu, melambaikan tangan padanya.
Selama empat tahun terakhir ia selalu lega tiap kali laki-laki itu muncul di hadapannya buat menjemputnya. Namun kali ini, ia sama sekali tidak merasa lega.
“Saya sudah dijemput.”
Ali memutar badannya. Menatap laki-laki itu.
“Saya pulang dulu.”
Ali mengangguk. “Hati-hati.”
Natasha merentangkan kedua tangannya. “Peluk?” Pernyataannya lebih seperti sebuah tawaran, bukan perintah juga bukan permintaan.
Ali tak bergegas memeluk sahabatnya. Ada kengiluan yang membuatnya ingin meringis.
“Al?”
Ali bergegas memeluk Natasha. Dipeluknya erat wanita dalam dekapannya. Ia tarik napas dalam-dalam. Menghirup parfum yang menempel pada pakaian wanita itu. Parfum yang ia tahu tak pernah diganti oleh wanita itu sejak pertama mereka berjumpa. Ia nikmati kehangatan pelukan itu, karena setelah ini ia tak akan merasakan kehangatan yang sama dan entah kapan ia akan kembali merasakan kehangatan itu.
Natasha memejamkan kedua matanya. Dirasainya pelukan itu penuh nikmat. Ia usap kepala Ali. Rambut itu masih sama lembutnya, tak berkurang sedikit pun kelembutannya. Ia hirup aroma sampo yang tak asing lagi buatnya, rupa-rupanya sahabatnya masih menggunakan merk yang sama dengan bertahun-tahun lalu.
Cukup lama keduanya berpelukan, hampir satu menit.
Perlahan, Ali melepaskan pelukannya secara perlahan. “Suami kamu menunggu.”
Natasha masih memeluk Ali. Sebisa mungkin menahan air matanya supaya tidak menetes hingga tenggorokannya terasa asin.
“Natasha.”
Perlahan, dengan berat hati Natasha melepaskan pelukannya. Diusapnya kedua matanya. Ia tatap Ali lekat lalu tersenyum selebar mungkin, meyakinkan pada Ali dan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, atau setidaknya akan baik-baik saja. “Oke, saya pulang dulu.”
Natasha segera menyeberangi jalan raya menghampiri suaminya.
Ali menatap punggung Natasha, begitu wanita itu tiba di seberang jalan, bergegas ia beranjak dari tempatnya.
Natasha tiba di hadapan suaminya, ia tersenyum kepada lelaki yang telah empat tahun menikah dengannya. Membiarkan lelaki itu mencium keningnya. Namun tak lama kemudian, ia kembalimemutar badan, ditatapnya sahabat yang paling disayanginya. Kini, Ali telah beranjak dari tempat mereka semula, belum jauh dari jangkauan matanya.
“Al!”
Ali tak mendengar teriakan itu.
“Alika!”
Ali menghentikan langkahnya. Menengok ke arah sahabatnya.
“Lain kali, bisa ketemu lagi, kan?”
Ali tak segera menjawab. Jika ada pertemuan selanjutnya, bukankah akan ada kerinduan lagi? Batinnya bertanya. Ia mengangguk. “Mudah-mudahan.” Serunya.
“Alika!” Natasha berteriak lagi. Belum ingin untuk berpisah.
Bersamaan dengan itu rombongan kendaraan melaju di jalan raya, menghalangi pandangan masing-masing. Cukup lama, hampir dua menit.
Sebuah bus berlalu dari hadapan keduanya. Kini mereka dapat saling berpandangan.
Natasha dapati kini telah berdiri seorang laki-laki di samping Ali. Ia terdiam. Ditatapnya sepasang suami istri di seberang sana. Ia kepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Tenggorokannya terasa kian asin. Tersenyum selebar mungkin.
“Hati-hati!” Serunya.
Ali terdiam. Ditatapnya Natasha yang berada dalam rangkulan laki-laki berjas hitam tadi. Menelan ludah, menahan ngilu yang sungguhan membuatnya ingin meringis. Kemudian ia gandeng tangan suaminya, berharap dengan begitu mendapatkan kekuatan untuk melihat pemandangan di hadapannya. Ia mengangguk dan balas tersenyum lebar.
“Kamu juga.” Ucap Ali kemudian.
Dua pasang suami dan istri itu lantas segera berlalu, menuju rumah mereka masing-masing.
Ali tak pernah tahu, beberapa detik sebelum Natasha memintanya buat berhati-hati, ada kata cinta yang diucapkan oleh wanita itu dalam hati. Natasha tak pernah tahu, bahwa sesaat sebelum Ali mengangguk, ada pengakuan cinta yang diucapkan oleh Ali walau hanya dalam hati.
Namun keduanya sama-sama tahu, bahwa cinta yang mereka rasai tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Agar tak perlu ada yang tersakiti. Agar tak ada jarak yang tercipta. Cukup dengan membatinsaja.
Selesai di Yogyakarta, 2 Desember 2016
Pukul 07:26 WIB