Latest Posts

Membatin cerpen oleh: ImaRosyi             Membatin cerpen oleh: ImaRosyi        ...

Membatin
cerpen oleh: ImaRosyi


       
   Membatin
cerpen oleh: ImaRosyi
            Di cafe ini keduanya duduk berhadapan di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke jalan raya, dipisahkan oleh sebuah meja. Mereka saling tatap dan tersenyum setelah beberapa saat lalu saling berpelukan erat. Meyakinkan diri masing-masing bahwa pertemuan ini nyata adanya, bukan sekadar mimpi. Bahwa sosok di hadapan masing-masing sungguhan hadir, bukan sekadar ilusi yang diciptakan oleh otak dan benak masing-masing karena barangkali keduanya sudah sama-sama gila dan lelah menahan kerinduan selama lima tahun tanpa pernah bertemu sekali pun.
            “Apa-apaan, sih ini? Sampai kapan kita mau tatap-tatapan seperti ini?” Ali bertanya sembari menahan semburan tawanya.
            “Kamu sendiri kenapa sejak tadi cuma senyum sambil ngelihatin saya?”
            “Oke, cukup! Kamu apa kabar?”
Wanita di hadapannya tampak sehat dan baik-baik saja. Ali tak benar-benar tahu barangkali ada kesedihan dan rasa sakit dalam hati sahabat lamanya. Namun senyum wanita itu masih sama seperti dulu, terasa begitu manis dan dipenuhi kebahagiaan. Enam tahun bersamanya, cukup bagi Ali untuk mengetahui suasana hati sahabatnya tanpa perlu wanita itu memberitahukannya pada Ali. Sebab Ali bisa bedakan berbagai rasa yang dirasai sahabatnya cukup dari tatapan mata dan senyumannya. Dan kali ini Ali cukup yakin, bahwa sahabatnya baik-baik saja. Kalau bukan untuk mengakrabkan kembali kerenggangan selama lima tahun, Ali enggan untuk berbasa-basi.
Natasha diam barang lima detik. Mengulang pertanyaan Ali dalam hati buat dirinya sendiri. Lima tahun terakhir hidupnya sangat berbahagia. Hanya kerinduan kepada Ali yang membuat kebahagiaan itu kurang sempurna. Namun kini di hadapannya telah hadir sahabat yang sangat dirinduinya. Jadi, bukankah kini kebahagiaan itu menjadi sempurna? Maka ia baik-baik saja. “Seperti yang kamu lihat.” Jawabnya sambil tersenyum lebih lebar lagi, “kamu sendiri?”
Ali menelan ludah. Ada kerinduan yang telah lama ia pendam. Kerinduan kepada sahabat lamanya selama lima tahun. Selama itu, tak satu orang pun mengetahui jika ia hidup sebagai seorang perindu akut. Sahabat yang sangat dirindukannya pun tak mengetahui hal itu. Sebab ia tak pernah mengatakan kerinduan itu pada siapapun, karena ia terlalu takut unuk mengatakan rindu. Bahkan hanya merasai kerinduan ini pun telah membuatnya ketakutan. Maka selama lima tahun ia hanya bisa memendam kerinduan itu tanpa mengucapkannya pada siapapun termasuk orang yang dirinduinya. Menyimpan kerinduan itu rapat-rapat tanpa pernah ia rawat hingga berkarat dan membuatnya nyaris sekarat.
Ali tak pernah merawat kerinduan itu sebab ia tak tahu cara merawat kerinduan. Bahkan ia tak tahu bila kerinduan bisa dirawat, sepengetahuannya rindu tak bisa dirawat tetapi memiliki obat untuk membabatnya. Dan kini telah ia dapatkan obat itu: berjumpa dengan orang yang amat dirindukannya.
Namun Ali tak yakin bila pertemuan ini adalah obat yang tepat buat membabat kerinduan yang telah lama berkarat itu. Setelah ini, mereka akan kembali berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Setelah ini, ia akan kembali merindukan sahabat lamanya. Lalu buat apa pertemuan ini terjadi bila nanti kembali merindu? Tak bisakah rindu benar-benar dibabat tuntas? Pertemuan ini hanya seperti obat bius yang diberikan saat cabut gigi, tak ada rasa nyeri ketika dokter mencabut giginya, tetapi satu jam kemudian ketika giginya telah ompong, rasa sakit itu baru dirasainya. Sayangnya, setelah cabut gigi dokter akan memberikannya obat buat menghilangkan rasa nyeri yang tak lagi bisa ditangani oleh obat bius, sedangkan ia tak punya obat untuk menghilangkan kerinduan setelah pertemuan ini berakhir.
“Seperti yang kamu lihat juga. Saya baik-baik saja.” Ali tersenyum selebar mungkin. Setidaknya saat ini ia baik-baik saja. Soal nanti ia kembali sekarat karena menahan kerinduan adalah persoalan lain, toh wanita itu menanyakan kabarnya kali ini bukan nanti setelah pertemuan ini berakhir.
Lagi, keduanya terdiam. Berpisah selama lima tahun membuat keduanya benar-benar canggung. Bukankah seharusnya kecanggungan itu tak hadir, bila keduanya sama-sama mengklaim bahwa sosok di hadapan masing-masing adalah sahabat sejati yang sangat karib? Mestinya tadi mereka saling berpelukan erat, menjerit kegirangan dan saling memberi umpatan selayaknya sahabat karib.
Natasha menatap ke luar jendela. Di luar sana hujan mulai turun. Para pejalan kaki berlarian mencari tempat berteduh. Para pengendara sepeda motor menghentikan laju kendaraan mereka sejenak untuk mengenakan jas hujan. Mereka yang berada di dalam mobil maupun bus cukup duduk tenang pada kursi masing-masing sambil menatap jalanan. Dan udara kini perlahan berubah menjadi dingin.
“Jadi, gimana pekerjaan kamu?” Ali kembali bertanya, berusaha menghilangkan kecanggungan di antara keduanya yang terasa begitu menggelikan dan mencekik. “Sudah berapa pasien yang kamu suntik mati?” Lanjutnya sebelum Natasha menjawab pertanyaannya.
Natasha tersenyum lebar hingga gigi-gigi serinya yang berjajar rapi terlihat. “Syukur mereka semua masih hidup sampai saat ini. Kamu sendiri bagaimana? Fans kamu, para penggemarmu, sudah berapa banyak yang terpaksa dilarikan ke dokter telinga? Atau barangkali mesti dilarikan ke UGD gara-gara mendadak epilepsi.”
“Oh, setelah mendengarkan musik-musik saya,  awalnya mereka memang terserang epilepsi. Tapi setelah itu, mereka semua justru bisa mendengar batin seseorang, jadi nggak perlu dilarikan ke dokter telinga! Luar biasa, kan?”
“Wah! Luar biasa banget!”
“Dasar gila!”
“Kamu yang gila!”
Keduanya terbahak bersama hingga perut mereka terasa sakit, wajah memerah dan air mata berlinangan. Satu menit kemudian kecanggungan itu hilang sama sekali, segalanya mencair seperti saat mereka belum berpisah.
                                                            ***
Keduanya adalah kawan satu perguruan tinggi. Kala itu Ali masih menjadi calon pianis, sedangkan Natasha masih menjadi calon dokter.  Keduanya saling kenal ketika sama-sama bergabung dengan tim paduan suara kampus mereka.
Natasha tak menampik, sejak bertemu pertamakali dengan sahabatnya, ia segera mengagumi sosok itu. Dan ia tahu betul makin hari ia tak hanya mengagumi sahabatnya, tapi sungguh-sungguh memujanya, menyayanginya dan mecintainya. Natasha telah jatuh cinta, kepada sahabatnya sendiri.
Bagi Ali, Natasha hanyalah kawan satu unit kegiatan mahasiswa yang sama dengannya, tidak lebih dari itu. Setahun berlalu dan Ali tersadar bahwa wanita yang sekadar kawan satu unit kegiatan mahasiswa itu telah membuatnya merasai rasa yang tak pernah dirasai sebelumnya: cemburu. Ali sadar bahwa ia telah jatuh cinta. Natasha telah mencuri hatinya.
Empat tahun keduanya saling mengagumi dan memuja dalam hati. Tak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan masing-masing. Sebab, keduanya sama-sama takut untuk mengungkapkannya. Bukan sekadar takut mengetahui jawaban yang bakal menyakitkan perasaan. Namun mereka sama-sama takut bila seusai menyatakan perasaan masing-masing, akan ada jarak yang tercipta di antara keduanya. Maka bagi mereka, lebih baik tak pernah menyatakannya sama seakali tetapi dapat selalu bertemu dan bersama.
Usai meraih gelar sarjana, keduanya melanjutkan perjuangan meraih gelar magister. Tanpa sengaja keduanya mendapat beasiswa ke negara yang sama. Kota yang sama. Hanya perguruan tinggi yang berbeda. Diputuskanlah oleh keduanya untuk menyewa apartemen minimalis kelas ekonomi untuk tinggal bersama.
Dua tahun mereka hidup di bawah atap yang sama. Selama itu, mereka tak sekadar berjuang untuk meraih gelar magister, namun juga berjuang untuk tetap mengunci mulut mereka rapat-rapat dan mencekik leher masing-masing agar tiap kali kata cinta itu hendak diucap tenggorokan mereka jadi mampat sehingga kata cinta tak pernah diucap. Cuma lewat tindakan dan perbuatan mereka bisa ungkapkan rasa cinta itu.
Natasha tak pernah tahu, bila selama dua tahun itu, pada tiap sarapan dan makan malam yang dibuatkan oleh Ali untuknya, ada kandungan cinta di dalamnya. Ia tak pernah tahu, bila di setiap hari ketika kuliah telah usai, Ali selalu menyegerakan diri untuk kembali ke apartemen demi bisa lekas bertemu dengannya. Dan ia tak pernah tahu, tiap kali ia tertidur di meja usai mengerjakan tugasselalu adatangan lembut yang mengusap pipi dan membelai rambutnya.
Ali tak pernah tahu, terkadang di kala malam, ketika ia kelelahan, Natasha selalu masuk ke kamarnya untuk membenarkan selimut yang membungkusnya kemudian mencium keningnya. Ia tak pernah tahu bila tiap kali Natasha mengobati dan merawatnya ketika ia melukai dirinya sendiri maupun jatuh sakit karena kelelahan, ada kekhawatiran yang sungguh-sungguh dirasakan wanita itu. Ada kasih sayang luar biasa yang diberikan pada tiap sentuhan tangannya, bukan sekadar sentuhan tangan seorang calon dokter yang mesti merawat pasiennya.
Keduanya sama-sama tak pernah tahu, ketika gelar magister telah mereka raih, ada rasa takut yang sama-sama mereka rasai. Rasa takut untuk berpisah. Rasa takut bila nanti jadi merindu dan bilamanasulit untuk bertemu.
Mereka tak pernah tahu semua itu, karena masing-masing hanya membatin dalam hati. Tak pernah mengungkapkannya.
                                                            ***
By the way, saya tidak benar-benar baik-baik saja.” Ucap Natasha kepada Ali.
Kedua alis Ali terangkat. Tak mengerti maksud wanita itu. “Kenapa? Kamu...ada masalah dengan suami kamu?”
Natasha menggeleng. “Kamu penyebabnya.”
Ali terhenyak. Makin tak paham maksud sahabatnya.
“Kamu lupa kalau kamu punya satu kesalahan yang sangat fatal dan belum kamu tebus?”
“Maksud kamu?”
“Saya masih sakit hati karena kamu nggak datang ke pernikahan saya. Dan saya makin sakit hati karena kamu nggak ngundang saya ke pernikahan kamu.”
Ketegangan Ali berkurang. Ia tersenyum simpul. “Soal, itu. Kamu masih sakit hati?”
“Dendam kesumat malahan!”
Ali terkekeh. “Oke. Saya minta maaf banget karena nggak ngundang kamu ke pernikahan saya, Tapikan saya sudah bilang, kalau  saya nggak ngundang siapapun selain keluarga. Nggak ada satu pun teman saya yang saya undang. Dan untuk ketidakhadiran saya di pernikahan kamu, saya menyesal banget. Siapa sangka jika jadwal perform saya sama dengan hari pernikahan kamu. Perform seperti itu, kan, tentu sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bisa dari tiga hingga enam bulan sebelumnya.  Paling nggak, saya sudah kirim orang untuk datang bawa bunga, kartu ucapan dan kado.”
Ali tidak berbohong. Tak ada satu pun kawannya yang ia undang ke pernikahannya. Sebab, ia tak mau bila Natasha merasa dilupakan. Pada mulanya, ia hanya tak ingin mengundang wanita itu. Namun Ali tahu jika itu terlalu jahat dan tak adil untuk sahabatnya. Pada akhirnya, pesta pernikahan itu hanya dibuat untuk keluarga besar.
Namun Ali berbohong, jadwal penampilannya mestinya diadakan satu bulan usai pernikahan Natasha. Namun sehari setelah ia menerima undangan dari sahabatnya, Ali meminta pada agensinya untuk memajukan jadwal penampilannya, tepat pada hari pernikahan sahabat yang paling disayanginya.
Ali sangat paham jika kerinduan yang ia pendam kian berkarat dan membuatnya semakin sekarat. Namun ia juga paham, bila ia hadir pada pernikahan Natasha dan melihat sahabatnya bersanding dengan orang lain, kerinduan itu akan berubah menjadi rasa sakit yang juga membuatnya sekarat.
Kerinduan itu bagaikan sebuah penyakit yang kian hari terus menggerogoti kesehatannya. Fisiknya tampak baik-baik saja, tapi jiwanya begitu keropos. Namun ia juga tak mau, bila Natasha hadir di pernikahannya dan membuat hatinya  goyah.
Ali berada pada pilihan yang sulit: menahan kerinduan yang terus berkarat atau mengobati kerinduan itu tetapi ia akan tersakiti oleh rasa cemburu dan pahitnya menerima kenyataan tak dapat memiliki wanita sekaligus sahabat yang paling dikasihinya. Pada akhirnya ia memilih untuk menahan kerinduan itu, membiarkannya terus berakarat.
Natasha terdiam. Tersenyum kecut. Ia ingin mempercayai perkataan Ali. Namun, lima tahun terakhir, ia rasai bahwa sahabat yang dicintainya menghindarinya. Tanpa ia tahu mengapa.
“Kamu, harus menebus kesalahan kamu!” Ucap Natasha berusaha ketus. Memonyongkan kedua bibirnya.
Natasha ingin terlihat marah dan galak di hadapan Ali. Agar sahabatnya tak tahu, bahwa selama lima tahun terakhir ada kerinduan yang tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata dan Cuma lewat air mata. Agar Ali tak tahu, bahwa hari ini, beberapa saat lalu ketika ia bertemu dengan Ali untuk pertamakalinya setelah lima tahun berpisah, ada air mata kebahagiaan yang ia tahan.
Ali tersenyum geli melihat Natasha. Cara wanita itu mengekspresikan kekesalannya sama sekali tidak berubah.
 “Gimana caranya?”
Natasha memandang ke luar. Kini hujan makin lebat, sesekali angin berembus kencang dan terdengar suara guntur.
“Awalnya, saya pengin ajak kamu jalan-jalan ke manapun sampai malam. Sayangnya hujan. Kalau hujan nggak reda-reda, kamu harus temani saya ngobrol di sini sampai bosan. Yang penting hari ini kamu jadi milik saya.”
Kini giliran Ali yang terdiam. Ia tatap sahabatnya lekat-lekat. Ada hal yang mesti Natasha ketahui: hari ini, besok, lusa, minggu depan dan selamanya Ali akan dengan senang hati untuk menjadi milik Natasha. Natasha perlu tahu itu, namun Ali cuma bisa membertihatukannya dalam hati.
                                                            ***
Pukul delapan malam hujan baru reda. Sepasang sahabat itu baru saja meninggalkan cafe tempat mereka membicarakan banyak hal selama hampir lima jam. Keduanya berjalan beriringan meniti trotoar.
Natasha mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. Diatatpnya layar ponsel itu. Satu pesan singkat masukdari suaminya.
“Sudah dijemput suami kamu?” Ali bertanya hati-hati.
Natasha tersenyum dan mengangguk. Dimasukkannya kembali ponsel itu ke dalam saku. “Sepertinya kita harus berpisah di sini.” Ucapnya dengan berat hati. Ia tidak ingin berpisah malam ini. Tidak pula besok ataupun lusa. Natasha tidak pernah ingin berpisah dengan sahabatnya. “Thanks for today, lain kali ketemu lagi.”
Ali mengangguk berat. Lagi-lagi ia harus berpisah dengan sahabatnya. Lagi-lagi ia harus bersiap untuk menjadi perindu akut. Dan ia tak tahu apakah kali ini ia sanggup berdiri menahan kerinduan atau kerinduan itu yang sanggup membuatnya sekarat.
“Kamu, naik taksi atau dijemput?” Natasha bertanya. Mengulur waktu agar lebih lama bersama Ali.
“Sepertinya saya dijemput, kalau dia tidak lupa.” Ali terkekeh sendiri.
Natasha menatap sebuah mobil di seberang jalan. Seorang laki-laki berjas hitam keluar dari mobil itu, melambaikan tangan padanya.
Selama empat tahun terakhir ia selalu lega tiap kali laki-laki itu muncul di hadapannya buat menjemputnya. Namun kali ini, ia sama sekali tidak merasa lega.
“Saya sudah dijemput.”
Ali memutar badannya. Menatap laki-laki itu.
“Saya pulang dulu.”
Ali mengangguk. “Hati-hati.”
Natasha merentangkan kedua tangannya. “Peluk?” Pernyataannya lebih seperti sebuah tawaranbukan perintah juga bukan permintaan.
Ali tak bergegas memeluk sahabatnya. Ada kengiluan yang membuatnya ingin meringis.
“Al?”
Ali bergegas memeluk Natasha. Dipeluknya erat wanita dalam dekapannya. Ia tarik napas dalam-dalam. Menghirup parfum yang menempel pada pakaian wanita itu. Parfum yang ia tahu tak pernah diganti oleh wanita itu sejak pertama mereka berjumpa. Ia nikmati kehangatan pelukan itu, karena setelah ini ia tak akan merasakan kehangatan yang sama dan entah kapan ia akan kembali merasakan kehangatan itu.
Natasha memejamkan kedua matanya. Dirasainya pelukan itu penuh nikmat. Ia usap kepala Ali. Rambut itu masih sama lembutnya, tak berkurang sedikit pun kelembutannya. Ia hirup aroma sampo yang tak asing lagi buatnya, rupa-rupanya sahabatnya masih menggunakan merk yang sama dengan bertahun-tahun lalu.
Cukup lama keduanya berpelukan, hampir satu menit.
Perlahan, Ali melepaskan pelukannya secara perlahan. “Suami kamu menunggu.”
Natasha masih memeluk Ali. Sebisa mungkin menahan air matanya supaya tidak menetes hingga tenggorokannya terasa asin.
“Natasha.”
 Perlahan, dengan berat hati Natasha melepaskan pelukannya. Diusapnya kedua matanya. Ia tatap Ali lekat lalu tersenyum selebar mungkin, meyakinkan pada Ali dan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, atau setidaknya akan baik-baik saja. “Oke, saya pulang dulu.”
Natasha segera menyeberangi jalan raya menghampiri suaminya.
Ali menatap punggung Natasha, begitu wanita itu tiba di seberang jalanbergegas ia beranjak dari tempatnya.
Natasha tiba di hadapan suaminyaia tersenyum kepada lelaki yang telah empat tahun menikah dengannyaMembiarkan lelaki itu mencium keningnya. Namun tak lama kemudiania  kembalimemutar badan, ditatapnya sahabat yang paling disayanginya. Kini, Ali telah beranjak dari tempat mereka semulabelum jauh dari jangkauan matanya.
“Al!”
Ali tak mendengar teriakan itu.
“Alika!”
Ali menghentikan langkahnya. Menengok ke arah sahabatnya.
“Lain kali, bisa ketemu lagi, kan?”
Ali tak segera menjawab. Jika ada pertemuan selanjutnya, bukankah akan ada kerinduan lagi? Batinnya bertanya. Ia mengangguk. “Mudah-mudahan.” Serunya.
 Alika!” Natasha berteriak lagi. Belum ingin untuk berpisah.
Bersamaan dengan itu rombongan kendaraan melaju di jalan raya, menghalangi pandangan masing-masing. Cukup lama, hampir dua menit.
Sebuah bus berlalu dari hadapan keduanya. Kini mereka dapat saling berpandangan.
 Natasha dapati kini telah berdiri seorang laki-laki di samping Ali. Ia terdiam. Ditatapnya sepasang suami istri di seberang sana. Ia kepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Tenggorokannya terasa kian asin. Tersenyum selebar mungkin.
“Hati-hati!” Serunya.
Ali terdiam. Ditatapnya Natasha yang  berada dalam rangkulan laki-laki berjas hitam tadiMenelan ludahmenahan ngilu yang sungguhan membuatnya ingin meringis. Kemudian ia gandeng tangan suaminya, berharap dengan begitu mendapatkan kekuatan untuk melihat pemandangan di hadapannya. Ia mengangguk dan balas tersenyum lebar.
“Kamu juga.” Ucap Ali kemudian.
 Dua pasang suami dan istri itu lantas segera berlalu, menuju rumah mereka masing-masing.
Ali tak pernah tahu, beberapa detik sebelum Natasha memintanya buat berhati-hati, ada kata cinta yang diucapkan oleh wanita itu dalam hati. Natasha tak pernah tahu, bahwa sesaat sebelum Ali mengangguk, ada pengakuan cinta yang diucapkan oleh Ali walau hanya dalam hati.
Namun keduanya sama-sama tahubahwa cinta yang mereka rasai tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Agar tak perlu ada yang tersakiti. Agar tak ada jarak yang tercipta. Cukup dengan membatinsaja.

                                                            Selesai di Yogyakarta, 2 Desember 2016
                                                            Pukul 07:26 WIB

Note: My English is not really good. I wrote this article besides because I share my story for you...

Note: My English is not really good. I wrote this article besides because I share my story for you all is I want to check my grammar and make it better :p

Hi guys, for the opening of this article. I will tell you that ain't K-Popers. Sure, I really like Korean drama because I'm movie enthusiast. I really like to watch movie, drama and anime. I also music enthusiast, especially instrumental. When I watched a movie/drama/anime there will always a song from the movie/drama that I love, at least one or two (all this time will be more than one song). So, I have many Korean song on my computer and smartphone, but that's not because I'm a K-poper, because I love the song, not because it from Korea.

All this time I never become a fan of any girl or boygroup. But, if there a song from any girl or boygroup that I felt its good, I will love their song, not the group.

Because I really like to watch Korean drama, so I love Kim Sae-Ron, Kim Yoo Jung and Kim So Hyun very much, especially Kim Sae Ron. I always waiting for and looking for her news, her videos, and her newest drama or movie.

One day, I watched Sae Ron's video on youtube when she become MC of MBC Music Core. In that video, for open the shows Sae Ron and Kim Min Jae (her MC partner) sing a song entitled Me Gus Tas Tu. It's first time I heard the song. I never heard it before and I don't know the original singer of the song. When the music is played, immidiately I enjoyed it. I feel that the song is good. But I was not download the song. I don't know why, maybe sure I enjoyed the song but I'm not really love the song. My habit, if there good song I will enjoys it, but enjoy a song is not always love the song. So, if I didn't love a song very much, I won't download it.

I have some k-popers friend in my class. It's not many. But actually some of my k-popers classmate is also my bestfriend. I often heard they sing a Korean song (surely it's not a single from a singer, but a song from boy/girlgroup). One day, my best friend who is k-popers sing Me Gus Tas Tu. Then next day he showed me  and my other best friend GFRIEND's Me Gus Tas Tu Accident Video. Both of them singing the song when watched the video. Because they sang the song and I remember that Me Gus Tas Tu is the song that sungs by Sae Ron, so I also sung the song (No, I was not song, I just said "nananananana" coz didn't know the lyrics, lol :p)

After that, I looking for Me Gus Tas Tu MV on youtube. I watced it. Well, I love the song. But, I felt nothing with the MV, not because the concept, but I felt nothing to GFRIEND. So I download the song, not the MV.

Months later, I didn't have any activites. I was so bored. I searched Sae Ron videos but I got old videos. In the related videos Me Gus Tas Tu MV is appear. So I watched the video again. After that, with no desire, I was typing "GFRIEND" in youtube's search bar. I found other MV that is Glass Bead. I watched. I enjoyed the song, but not love it yet. I watched next video, that is Rough MV. When firts time the video was playing, I think it's enough good because the concept. Then the music is played too. I enjoyed the song. I watched Rough MV until end. Finally, what I happened? This song is awesome! I like it! I download it! I also like the MV. The concept is good, I thought. After download the MV I watched it again and again. And my mouth was open when I look GFRIEND members and I thought they are so beautiful.

First people that stole my focus is SinB. She's beautiful, but I don't really like her, because she looks so arrogant and cruel in the Rough MV. After that I focus at Eunha, she beautiful too and cute (because her chubby cheeks). Then I focus at Yerin, she is so pretty and look so feminine in the MV. After that Yuju stole my attention, because I think from 6 members, Yuju's voice is the best voice. (I don't try to compare, it's because I like typical voice like Yuju's voice, I know every member have good voice). For the last time Umji got my attention because her voice is sexy like my bestfriend :3.


Well, after that I know that I love Yerin, Eunha and SinB (but I didn't really like SinB yet). I think I was not like GFRIEND. I just like some members.

When they are comeback with Navillera. Absolutely I download the MV. I love the song also the MV. Likes my habits, after download the MV I watched it again and again. First time, I just like the concept. But for a thousand  times I watced the MV, suddenly I focus on Eunha and Yerin. I felt something weird. It's like Yerin and Eunha is dating in the Navillera MV.

Because I really courious, so I searced on google with keyword "Yerin & Eunha Navillera". And.....tadaaaa, I got some article that said if they are dating. I also watched their interview video ebout Navillera. And the article it's not hoax, they are really dating in the MV.

Aigoo...aigoo!

You know guys? I reall love Yerin and Eunha. After know the fact I don't know why I was so happy. And I ship them, lol. I hard worked to find EunRin photos. And give love for every EunRin photos in instagram. But, honestly, I got more SinB and Yerin photos than EunRin. It's enough made me jealous (lol, I was so childish)

Then, I looking for GFRIEND videos on youtube and I found GFRIEND x MAMAMOO ShowTime. I download episode 1-5 (for the firts time I found the videos, I just found 5 episodes). When I only watced first episode, I immediately exited. So I watched it until episode 5.

GFRIEND x MAMAMOO ShowTime made me shocked. Because I got some fact that I never know about them. The show showed to me about their real personality and that's made me love GFRIEND. Not just Yerin and Eunha, but all of them include SinB, the girl who I don't like before.

From ShowTime, I know that SinB as insane as I am. Her attitude and her deep laugh that such as cruel queen is so me. SinB is so stupid, morron, crazy, insane and success made me laugh. I feel sorry because I hated her before.

A also know that Sowon who didn't have any expression can be crazy too like SinB. I love when SinB and Sowon "fight" and "war" just such as Tom and Jerry, they are so funny. I love how he treat other members, like a mother treat their child. She's not just a leader, she is a mom.

I think Yuju is also like a mom for other member. I love when Yuju going with Eunha and Yerin. Although Yerin is older than Yuju, her attitude is so cute and childish. Saw Yuju between Euna and Yerin is like see a good mother with her twins daughter.

And about Umji, she look so obidient with other members. Exactly, she is maknae. And the maknae like to doing make up like her unnies.

Huaaaahhh! I have to say that this is firts time for me to be a fangirl. First time for me falling in love with Korean girlgroup. I really like GFRIEND! I love all of them not because their beautiful, cute and pretty face but also their attitude and pesonality. Thank you for MBC ShowTime that made me not just love Yerin and Eunha but all member include the most cruel and morron girl: SinB (huehehehe :v)

For closing this article, I think I still not become k-popers. Because I don't know other girl/boygroup. I'm not falling in love with other girl/boygroup. I just love GFRIEND. Can I called k-popers when I just really love one girlgroup and do not understand anything about other group?





Hari ini adalah hari yang istimewa untukku dan istriku, sebab hari ini adalah ulangtahun pernikahan kami yang ke dua puluh lima. Dan untuk...

Hari ini adalah hari yang istimewa untukku dan istriku, sebab hari ini adalah ulangtahun pernikahan kami yang ke dua puluh lima. Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun terakhir, kami merayakannya.
Istriku bukan orang yang romantis, tidak terlalu suka hal-hal berbau romantic dan ia tidak suka merayakan suatu peringatan.
Ia memang tidak membenci hal-hal romantis, tapi, bila aku mencoba romantis padanya, alih-alih ia akan tersipu malu dan meleleh, ia malah akan merasa geli dan terkekeh-kekeh.
Ia tidak pernah menyukai perayaan. Oleh karena itu kami tidak pernah merayakan ulangtahun pernikahan kami. Saking tidak menyukai perayaan, ia pun kerap melupakan ulangtahunku dan ulangtahunnya sendiri.
Meski demikian, aku tetap merasa terbekati dan berbahagia dalam dua puluh lima tahun terakhir. Sebab selama itu, meski ia tidak romantis dan sering melupakan ulangtahunku, ia selalu membuatku tersenyum dan tertawa.
Perayaan ulangtahun pernikahan kami hanya dirayakan olehku, istriku dan kedua anak kami: Si Sulung yang berusia dua puluh tahun dan adiknya yang usianya setengah dari kakaknya.
Jangan tanya mengapa tiba-tiba kami merayakan ulangtahun pernikahan kami. Sebenarnya, aku dan istriku tidak pernah ada rencanan merayakannya, semua ini adalah persekongkolan di antara Si Sulung dan adiknya.
IStriku tidak menyukai perayaan. Namun ia tetap berterimakasih kepada anak-anak kami tanpa pakai acara tersipu malu dan pipi yang berubah jadi kemerahan mirip kepiting rebus. Justru akulah yang sebenarnya merasa terharu dan gembira bukan kepalang.
Anak-anak kami memaksa kami buat saling mengucapkan sesuatu di hari ini.
“Harus yang romantis.” Begitu paksa Si Bungsu. Sepertinya ia telah bosan hidup sepuluh tahun tanpa pernah mendengar kalimat-kalimat gombal yang saling dilontarkan oleh kedua orangtuanya.
Panjang dan lebar aku berusaha mengucapkan sesuatu yang romantic yang disambut oleh kata: “Cieee.” oleh kedua anak kami. Dan istriku membalasnya dengan kalimat singkat dan tegas:
“Terimakasih sudah betah jadi suami saya selama dua puluh lima tahun.”
Sudah, cuma itu, tidak ada tambahan lainnya. Namun kalimat itu sukses membikin hari ini terasa kian istimewa—meski mendapat protes dari Si Sulung dan Si Bungsu sebab dianggap tidak romantis.
                                                       ***
Aku mengenalnya sejak SMA. Kami kawan satu kelas selama tiga tahun. Rekan satu organisasi. Teman ketawa-ketiwi. Setelah lulus SMA tanpa sengaja masuk ke universitas yang sama, beda fakultas, tidak lagi ikut organisasi yang sama, tapi kami tetap menjadi kawan karib.
Di mataku ia adalah gadis sederhana. Bukan cuma soal gaya hidup dan penampilan, tapi cara ia berpikir pun juga sederhana, apa adanya, sampai terkesan terlalu polos dan sering asal ceplos. Jika cinta maka ia akan bilang cinta. Jika benci maka ia akan bilang benci. Tidak perlu pakai acara basa-basi. Ia akan berkata jujur dari hati.
Ia tidak menyukai kepura-puraan dan drama dalam menjalani hidup, tidak seperti kebanyakan perempuan. Karena buatnya dua hal itu akan membuat hidup menjadi rumit. Ia tidak mau memiliki hidup yang rumit, ia ingin terus berbahagia.
Saking jujur dan apa adanya, konon beberapa lelaki yang pernah mencoba mendekatinya dan menyatakan cinta padanya menjadi sakit hati dan menyuruh tiap lelaki yang ingin mendekatinya buat berhati-hati.
“Saya nggak mau jadi pacar kamu. Saya nggak cinta sama kamu.”
Begitulah kalimat andalan yang ia ucapkan tiap ada lelaki yang menyatakan cinta padanya. Tanpa mau basa-basi dan berhati-hati. Tidak terlalu peduli jika nanti membikin para lelaki sakit hati.
Saat kuliah untuk pertamakalinya ia memiliki pacar. Seorang lelaki yang tidak jelek juga tidak tampan. Namun penampilannya cukup keren.
Setelah setahun pacaran, lelaki itu jatuh cinta lagi. Diam-diam memiliki pacar lain. Tak lama kemudian istriku—yang saat itu belum menikah denganku—mengetahuinya.
“Saya minta maaf. Saya nggak bermaksud mengkhianati kamu. Kami cuma teman dekat. Tidak lebih.” Begitu yang diucapkan oleh lelaki tersebut.
Saat itu aku dan beberapa teman karib kami menguping perbincangan mereka. Sebab kami sedang menganggur dan benar-benar butuh hiburan. Sebenarnya saat itu kami mengharapkan ada aksi teriak-teriakan dan tampar-tamparan persis dalam sinetron. Kami sudah siap-siap buat terbahak sambil saling meminjam ujung baju teman terdekat buat mengelap ingus dan air mata sandiwara.
“Kalau kamu cinta sama dia, jujur saja. Saya nggak akan marah.”
Lelaki itu diam. Menatap istriku dengan takut-takut.
Istriku balas menatap lelaki itu lekat-lekat. “Kamu cinta sama dia.”
“Tapi saya masih cinta sama kamu.”
“Oke, kalau begitu sekarang maunya gimana?”
“Saya…” Lelaki itu tidak lekas melanjutkan kalimatnya.
“Kamu inginnya pacaran sama saya dan dia, kan? Oke, saya nggak keberatan. Tapi gimana sama dia? Dia mau? Kalau dia mau, ayo jalani. Kalau dia nggak mau, ya kamu harus pilih salah satu.”
Kami terkaget-kaget. Begitu pula dengan lelaki itu. Kami tidak menyangka ia akan berkata seperti itu. Untuk pertama kalinya kami mendengar pernyataan seperti itu dari mulut seorang perempuan yang sedang dikhianati oleh kakasihnya. Bahkan, dari mulut seorang lelaki pun belum pernah kami dengar.
Lelaki itu keheranan. “Kamu nggak salah bicara, kan? Nggak lagi menguji saya, kan?”
“Nggak. Saya nggak salah bicara, kok. Lagian menguji buat apa? Menguji apakah kamu setia sama saya atau nggak? Kata kamu, kamu masih cinta sama saya, artinya kamu masih setia sama saya. Kalau kamu jatuh cinta lagi sama gadis lain, ya mau gimana lagi? Kapan dan kepada siapa kita jatuh cinta, kan, bukan kita yang menentukan. Jadi, ya, saya nggak pa-pa dan Cuma bisa kasih solusi  seperti itu.”
Beberapa minggu kemudian mereka putus. Alasan yang kudengar dari istriku, perempuan yang dicintai oleh lelaki itu tidak sudi berbagi cinta. Dan menurut istriku, cintanya buat lelaki itu tidak sebesar cinta perempuan tersebut. Maka selesai lah urusannya. Tidak ada air mata. Tidak pula ada penyesalan yang kulihat di wajahnya. Ia juga tidak lantas menjadi pemurung. Ia tetap suka mengumbar senyum dan menayapa tiap orang yang berpapasan dengannya meski tidak ia kenal.
Begitulah istriku. Tidak mau membuat hidupnya menjadi rumit.  Menerima apa yang ada dalam hidupnya. Bahkan hingga persoalan cinta yang seharunya bila dijalani oleh orang lain maka akan menjadi rumit dan super mengharukan macam telenovela atau film India.
                                                       ***
Manjadi kawan karibnya membuatku tidak pernah bohong dan malu buat mengatakan segala hal padanya. Begitu pula dengan dirinya. Kami amat terbuka. Saling berbagi aib mengenai apapun, mulai dari yang amat sepele sampai yang nyaris mencoreng nama baik dan harga diri.
Hingga akhirnya tiba hari di mana aku menyukai tiap hal darinya. Hari di saat aku selalu ingin mendengar suara dan tawanya. Saat aku selalu ikut tersenyum jika melihatnya tersenyun. Saat aku merasa berbahagia tiap kali menatap kedua bola matanya yang kurasai selalu memancarkan kehangatan dan ketenangan.
Aku menyadari bahwa aku mengaguminya. Aku tidak menampik hal itu. Dan aku tidak menyumbinyakan hal tersebut darinya.
“Sepertinya saya on the way jatuh cinta sama kamu.” Ucapku padanya setelah aku tidak bisa lagi menahan kekaguman dan rasa sukaku kepadanya.
“Kamu? Jatuh cinta sama saya?” Tanyanya sangsi.
Aku mengangguk. “Nggak tahu kenapa, sepertinya saya suka dan kagum sama kamu. Tapi belum tentu saya jatuh cinta sama kamu. Baru akan jatuh cinta. Dan tidak tahu bakal jatuh cinta tau nggak.”
Dia tersenyum simpul dan mengangguk. “Kalau begitu silakan mengagumi saya. Kalau akhirnya jatuh cinta, moga-moga tidak patah hati karena saya tidak cinta sama kamu. Tapi kalau sampai bertahun-tahun kamu tetap mencintai saya dan tiba-tiba suatu hari saya jadi balas mencintai kamu, maka selamat, Tuhan berarti sayang banget sama kamu.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Kemudian kami terkekeh bersama.
Begitulah caraku menyatakan perasaanku padanya. Tidak perlu malu-malu apalagi pakai acara pipi yang memerah. Tidak pula berbasa-basi dan berpuisi. Tegas dan lugas. Dikahiri dengan tawa keakraban sepasang sahabat.
                                                       ***
Ia tidak suka membuat segala sesuatu menjadi rumit. Bahkan persoalan cinta yang bila dijalani oleh orang lain akan menjadi serumit telenovla pun menjadi sederhana bila ia yang menjalani.
Setahun setelah kami lulus kuliah dan berpisah, kami membuat janji buat bertemu kembali untuk melepas rindu yang telah membuncah.
“Jadi, sekarang sedang pacaran atau nggak?” Tanyaku setelah saling sapa dan menanyakan kabar.
Ia mengangguk. “Seorang wanita yang tidak sengaja bertemu dengan saya saat nonton pertunjukan orkestra.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tidak ada rasa malu maupun takut yang tersirat di wajahnya. Malahan ia tersenyum cukup lebar
Really? Ternyata ada seorang wanita yang mau dengan wanita seperti kamu.” Aku tersenyum meledek, membalas candaannya.
“Saya serius.” Ia tersenyum simpul. Menatapku lekat.
Aku diam sejenak. Balas menatapnya lekat. Mencerna ucapannya. Kemudian mulutku lebih dulu terbuka sebelum kata-kata keluar.
“Kamu, sungguhan pacaran sama perempuan?”
Ia tersenyum lebar. “Saya sudah tahu ekspresimu akan seperti apa. Selamat terkaget-kaget. Dan kalau habis ini kamu malu punya teman seperti saya, silakan.”
“Bagaimana bisa?”
“Bagaimana? Lho, jatuh cinta itu, kan, ya tinggal jatuh cinta saja. Nggak gimana-gimana. Kalau memang kenyataannya saya jatuh cinta sama perempuan, ya sudah, memang seperti itu adanya. Gitu saja, kok, bertanya bagaimana bisa.”
Aku mengusap wajahku. “Lalu, saya harus bagaimana? Kamu suruh saya buat jaga rahasia atau bagaimana?”
Keningnya berkernyit. “Jadi, ini rahasia?”
Kini giliran keningku yang berkernyit.
Ia tersenyum lebar. “Jadi menurut kamu ini aib? Ya, kalau kamu menganggapnya demikian, maka menurut kamu bagaimana seharusnya seorang sahabat menanggapi aib sahabatnya? Tapi kalau buat kamu ini kabar baik, ya, menurut kamu bagaimana seorang sahabat menanggapi kabar baik dari sahabatnya? Sederhana,kan.” Ia mengedipkan sebelah matanya sambil mengangkat cangkir kopinya.
Aku terdiam dan mengusap wajah.
Ia selalu menghadapi segala masalah dengan tenang dan membuat semuanya menjadi sederhana, bahkan masalah yang amat rumit pun.
                                           ***
Lima tahun berlalu dan kami kembali bertemu. Sore hari di bibir pantai. Kami duduk bersebelahan menatap laut dengan beralaskan pasir.
“Kami putus.” Ucapnya tanpa menatapku.
Aku menatapnya. “Kami? Kamu dengan perempuan itu?”
Ia mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kenapa?”
“Ia jatuh cinta lagi. “
“Dengan perempuan lain?”
“Dengan laki-laki.”
“Siapa yang memutuskan?”
Ia mengalihkan pandangannya padaku. “Menurut kamu?”
Ada yang berbeda dari wajahnya. Senyum itu amat samar. Kedua matanya sayu. Tidak kudapati kehangatan dan ketenangan di balik kedua bola matanya. Dan aku tahu bahwa ia benar-benar mencintai wanita itu.
“Dia.” Jawabku.
Ia tersenyum simpul. Kembali menatap lautan.
“Kamu melepaskannya begitu saja?”
“Ya. Dia minta berpisah. Masa saya paksa dia buat tetap tinggal?”
Aku terdiam, mencoba ikut merasai kesedihannya.
Ia menarik napas panjang kemudian melepaskannya. “Ternyata, melepaskan seseorang yang kita cintai cukup menyakitkan.” Ia menutup kedua matanya. Menangis. Tidak ada sepuluh detik kedua mata itu segera membuka.
“Tapi ini tidak akan lama. Kamu jangan khawatir. Saya akan tetap berbahagia.” Ucapnya kemudian sambil memaksakan senyumnya.
Sore itu aku menemaninya menangis hingga larut malam. Namun tidak ada isakan. Tidak pula tubuh yang bergetar. Cuma air matanya yang terus mengalir.
                                                       ***
Dua tahun kemudian tanpa sengaja kami dipertemukan di pantai yang berbeda. Kudapati dirinya dengan senyum lebar dan bola mata yang bercahaya.
“Apa kabar?” Tanyanya terlebih dahulu.
“Bosan terjebak di balik beton pencakar langit. Kabarmu sendiri bagaimana?” Tanyaku padanya.
“Masih belum jatuh cinta lagi karenasepertinya masih mencintai yang dulu. Tapi saya berbahagia. Kamu lihat sendiri keadaan saya, kan?”
“Kamu terlihat lebih gemuk.”
“Oh, jelas, dong. Saya, kan, selalu berbahagia.”
“Kebetulan kita ketemu. Ketua kelas terkahir kita bakal menikah bulan depan. Dia mau kirim undangan buat kamu, tapi susah menghubungimu. Dia titipkan ke saya. Tapi nggak saya bawa.”
“Lho, cowok ganteng seperti dia malah baru akan menikah? Saya pikir sudah dari dulu.”
“Ya, begitulah. Kalau dia sudah menikah, kurang kita berdua. Teman-teman satu kelas sudah sebar undangan semua.”
“Jadi, kamu kapan sebar undangan juga?”
“Tergantung kamu maunya kapan.”
Ia terkekeh.
“Dulu saya pernah bilang kalau saya suka sama kamu dan on the way jatuh cinta. Sebenarnya sudah lama saya akhirnya jatuh cinta sama kamu.”
Ia tersenyum geli dan menatapku.
“Barangkali ini adalah “suatu hari nanti” yang dulu kamu sebutkan. Jadi, kamu jatuh cinta balik nggak sama saya?”
Ia tersenyum simpul. “Saya nyaman dan senang kenal kamu. Tapi untuk saat ini saya belum jatuh cinta sama kamu. Lagi pula, saya masih cinta sama dia.”
Ia menatap lautan. “Sebenarnya saya kesepian. Enak sepertinya kalau punya pacar baru. Tapi saya belum jatuh cinta lagi.”
“Saya mau, kok.”
“Tapi saya nggak cinta sama kamu.”
“Nggak masalah. Yang penting kamu nggak kesepian.”  
“Memang kamu mau pacaran sama saya padahal saya nggak cinta kamu?”
“Menikah. Ayo kita menikah. Menikahlah dengan saya maka kamu akan jatuh cinta dengan saya.”
Ia terdiam. Wajahnya berubah menjadi serius. “Ini bukan hal yang sederhana.”
Aku tersenyum geli. “Jadi, kamu yang selalu menganggap segalanya serba sederhana, kini menganggap hal ini tidak lagi sederhna? Kok, bisa?”
“Kamu tidak mengerti. Saya masih cinta dengan dia. Dan saya tidak cinta sama kamu.”
“Kamu tidak jatuh cinta lagi tapi kamu kesepian. Saya siap menemani agar kamu tidak kesepian. Kalau akhirnya kamu jatuh cinta dengan saya, itu adalah pencapaian yang saya tuju. Kalau akhirnya kamu tidak jatuh cinta dengan saya, setidaknya kamu sudah tidak kesepian. Lagi pula saya juga kesepian. Anggap saja kita menikah karena sama-sama kesepian. Soal cinta belakangan, yang penting rasa sepi terobati dulu. Simple, kan?”
Kami saling tatap dan diam beberapa saat.
“Kamu akan tersakiti. Jangan salahkan saya bila akhirnya saya tidak jatuh cinta.”
Aku mengangguk dan tersenyum. “Jadi, kita menikah?”
Ia tersenyum geli. “Kita nikmati hubungan ini dulu, jangan terburu-buru.”
                                                                        ****
Perayaan langtahun pernikahan yang ke dua puluh lima itu telah berlalu tiga bulan.
Hari ini aku dan istriku punya janji dengan seorang rekan kerjaku. Anak pertamanya akan menikah dan membutuhkan wedding organizer. Teman-teman kantor menyarankan untuk meminta bantuan istriku.
Aku dan istriku baru saja tiba di restaurant yang telah direncanakan. Kami telat lima menit. Segera aku celingukan begitu tiba di dalamnya. Tak lama kemudian kudapati seorang lelaki melambaikan tangan kepadaku.. Aku dan istriku segera menghampirinya.
“Maaf agak terlambat. O, ya, ini istri saya.” Ucapku.
Rekanku tersenyum. “Ya, tidak apa-apa. Selamat pagi.” Ia menjabat tangan istriku.
“Silakan duduk. Tunggu sebentar, ya. Istri saya sedang ke toilet. Sebentar lagi kembali. Ah, itu istri saya.”
Aku dan istriku yang baru saja duduk spontan megikuti arah pandang rekanku.
Seorang wanita berambut pendek berjalan mendekati kami. Aku dan istriku sudah memasang senyum dan bersiap berjabat tangan dengannya.
“Ma, ini, lho, teman Papa yang istrinya seorang wedding organizer.” Ucap rekanku setelah wanita itu bergabung dengan kami.
Aku tersenyum ramah kepadanya. Bersiap menjabat tangan. Namun wanita itu tidak tersenyum kepadaku. Ia terdiam. Menatap ke satu arah. Istriku.
Kutatap istriku. Ia tidak lagi tersenyum. Wajahnya datar. Dan kulihat kedua tangannya mengepal.
Lagi kutatap wanita itu. Ia tidak lagi menatap istriku. Ia memainkan jemari-jemarinya, seperti orang yang gugup.
Aku ikut terdiam. Kugenggam tangan kanan istriku. Moga-moga genggamanku dapat menenangkannya.
                                                       ***
Sepanjang perjalanan pulang istriku hanya diam. Ia terus menatap ke luar jendela.
Setibanya di rumah ia bergegas ke kamar. Saat berpapasan dengan anak-anak ia tidak menyapa mereka, tidak sperti kebiasaannya tiap kali tiba di rumah.
Kususul ia. Kudapati ia terduduk di tempat tidur dengan badan membungkuk dan wajah yang ditenggelamkan di balik kedua telapak tangan.
“Ma, saya minta maaf. Saya tidak tahu kalau istri teman saya itu…”
Ia bergegas menatapku. Tidak ada tanda-tanda bila ia masih menangis. Ia tersenyum simpul. “Tidak pa-pa. Tidak perlu minta maaf. Papa, kan, juga tidak tahu.”
Kugenggam kedua tangannya. “Kalau kamu merasa tidak nyaman, bisa kita batalkan perjanjian kita. Biar teman saya pakai wedding organizer lain.”
“Tidak pa-pa. Ini event besar, sayang kalau ditolak.” Ia tersenyum lebar. Namun kutahu senyumnya itu kecut.
Aku menatapnya iba. “Kamu yakin tidak pa-pa?”
Ia membuang pandangannya dariku. Memegangi keningnya dengan satu tangan.
“Saya minta maaf.” Ucapnya lirih.
“Untuk apa?”
“Kamu boleh berbuat apapun setelah itu. Kamu layak untuk marah, untuk memaki saya, atau apapun yang kamu inginkan.”
Ia menyisir rambutnya dengan tangan kiri satu kali. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Saya masih cinta dengan dia.” Ucapnya kemudian. “Saya minta maaf, saya bersalah, saya berdosa.” Ia tersiak.
Kupegang kedua pundaknya dengan lembut, kudekap ia. “Tidak pa-pa. Tidak apa-apa.”
Ia menenggelamkan wajahnya dalam pelukku. Balas memelukku. Erat. Sangat erat sambil meremas bajuku. “Saya masih mencintai dia. Masih mencintai dia. Saya bersalah. Saya minta maaf.”
“Tidak pa-pa..tidak apa-apa.”
Dua puluh lima tahun aku memiliki keluarga yang berbahagia bersamanya. Ia menemaniku dan merawatku dengan tulus. Ia mendidik dan membimbing anak-anak kami dengan begitu sabar. Tidak pernah kulihat kehangatan dan ketenangan di kedua bola matanya berubah menjadi perasaan terbelenggu dan terpaksa. Tidak pernah kudapati senyumnya yang terpaksa dan kecut.
Ia selalu berpikir sederhana, tidak mau membuat segala masalah menjadi rumit, selalu tersenyum dan menyapa tiap orang yang berpapasan dengannya meski tidak ia kenali. Aku tidak pernah melihatnya menangis terkecuali saat ia putus dengan pacarnya tiga puluh tahun lalu. Ia Cuma menangis, tanpa isakan, tanpa sesenggukan dan tanpa tubuh yang bergetar. Ia menangis dalam tenang.
Hari ini aku kembali menemaninya menangis hingga ia terlelap. Kali ini ia menangis dengan isakan, sesenggukan dan tubuh yang bergetar. Tangisannya bagaikan arus tsunami yang bergulung-gulung tak keruan.
Dua puluh lima tahun berbahagia bersamanya. Kini baru kusadari bahwa selama itu akulah yang selalu memberikan ciuman sayang dan pelukan rindu. Tak pernah kudapati ia bersandar di pundakku dengan manja maupun memelukku secara tiba-tiba.
Hari ini ia terus memelukku erat. Meremas bajuku pada bagian punggung dan kerap kali kulitku ikut tercubit. Dua puluh lima tahun berlalu, dan hari ini aku tahu istriku baru saja jatuh cinta padaku.

                                                                        Selesai di Yogyakarta, 15 Juli 2016

 pukul 3:13 dini hari